Mendengar kata santri apa yang ada dipikiran masyarakat? Ya, masyarakat pasti berharap santri sebagai ujung tombak perubahan. Terlebih santri merupakan produk pesantren sekaligus agen penerus para kiai. Lalu, bagaimana santri memaknai islam abad modern ini? Apakah santri sudah cukup menjadi penggerak agregator keislaman masyarakat?
Santri dengan segudang keilmuannya diharapkan menjadi agen sosialisasi cara berislam yang moderat. Cara berislam yang menjunjung tinggi martabat kemanusiaan. Selain itu, santri diharapkan tidak hanya berkecimbung dalam perihal agama saja, melainkan ilmu kewirausahaan, sains, pendidikan juga perlu untuk dipelajari. Hal inilah yang nantinya akan memperkuat pesantren sebagai lembaga produktif penghasil lulusan kebutuhan zaman.

Dengan mempelajari teknologi dan melek digital nantinya santri dapat menjadi founding fathers revolusi mindset masyarakat yang bekerja sama dalam membangun peradaban bangsa. Hal ini perlu didukung penuh oleh seluruh stakeholder bangsa. Sehingga, santri dapat menyebarkan nilai-nilai keislaman moderat dengan cepat dan mudah di abad teknologi sekarang.
Sebagai agent of change masyarakat, santri bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh Muhammadiyah. Hal itu adalah dengan terus menambah amal usaha di sektor pendidikan. Itulah nilai-nilai dakwah Muhammadiyah. Hal tersebut merupakan harapan pondok pesantren terhadap lulusannya. Mereka kembali ke pesantren dalam wujud amal usaha bersama-sama membangun dan memperkuat sektor pendidikan.
Jadi sudah saatnya kita tidak terjebak pada polarisasi agama. Insyaallah Islam akan tumbuh semakin kokoh apabila kita bekerja sama dan toleransi antarsesama muslim dan juga antara pemeluk agama yang berbeda.
Semoga momentum puncak resepsi perayaan seabad NU dan bantuan Muhammadiyah dapat membuka mata hati kita bahwa kita sepatutnya bersyukur hidup dalam suasana rukun dan damai. Cukuplah menjadi pembelajaran di negara-negara Timur yang hingga kini masih dalam konflik berkepanjanan akibat lemahnya ikatan persaudaraan.
