Jurang pemisah antara si kaya dan si miskin akan tampak semakin nyata apabila konflik global ini tidak dikikis. Mengingat, di negeri sendiri saja masih banyak kaum papa yang kelaparan di pinggir jalan, gelandangan, fakir miskin, yatim piatu, dan korban bencana, dan sebagainya. Mereka juga layak mendapatkan perhatian khusus dan layak mendapatkan akses sosial.
Daripada memuaskan diri dalam lingkaran hedonistik, alangkah baiknya sebagai makhluk sosial kembali menumbuhkan sikap kemanusiaannya untuk mengulurkan tangan sebagai makhluk sosial. Mengingat, manusia dan jin diciptakan untuk beribadah. Ibadah tersebut mencakup ibadah spesial kepada Tuhannya dan ibadah sosial.

Jika kita mau menyadari, sebenarnya perkembangan teknologi menawarkan berbagai kemudahan. Salah satu kemudahan dengan cara sederhana, yaitu dengan mentasarufkan sebagian harta kepada berbagai wadah resmi zakat, infak, dan sedekah hanya dengan berapa kali klik saja, beres.
Dengan begitu, kebiasaan hedonistik akan menyusut. Tentunya, hal ini diniatkan lurus untuk mencari rida Allah. Sebagai bentuk pengaplikasian tasawuf, yang murni dipusatkan pada Allah semata. Sejatinya, harta dan apapun yang dimiliki hanyalah titipan yang akan kembali pada pemiliknya. Dalam perspektif sosial, istilah pemerataan ekonomi juga sangat dianjurkan sebagai bentuk kepedulian sosial meski dalam bentuk digital semacam itu.
Sejatinya, dengan wadah resmi penyaluran dana zakat, infaq, dan sedekah, uang juga akan didistribusikan ke sasaran yang tepat. Dalam istilah tasawuf, juga terdapat istilah zuhud yang mana letaknya di dalam hati, mengosongkan hati dari perkara duniawi. Adapun harta kekayaan cukup diletakkan di tangan saja. Tangan itulah yang nantinya akan dengan ringannya menyalurkan pada siapa pun yang membutuhkan atas dasar perintah Allah untuk saling mengasihi dan bersosial yang baik.
Orang yang sudah di tahap itu, hatinya bersih dari sifat tamak dan hedonistik karena telah dipenuhi cinta pada Tuhannya. Perasaan ingin dipuji makhluk sudah bukan tujuan, karena sejatinya rida Allah yang dicari. Sedangkan, rida Allah dapat ditempuh dengan banyak cara, salah satunya punya jiwa kasih sayang terhadap semua makhluk Allah, terlebih pada makhluk yang berstatus sosial rendah, terzalimi.
Dalam kitab fenomenal al Hikam karya syaikh Ibnu ‘Athoillah Assakandari menyebutkan:
غيّبْ نَظَرَالخلقِ اِليْكَ بِنَظَرِاللهِ اِليْكَ، وَغِبْ عَنْ اِقْبالهِمْ عَلَيْكَ بِشُهودِ اِقْبالِهِ عَلَيْكَ
Artinya: “Hilangkan pandangan makhluk kepadamu, karena puas dengan penglihatan Allah kepadamu, dan hilangkan perhatian (menghadapnya) makhluk kepadamu, karena yakin bahwa Allah menghadapimu.”
