Argumen lain yang sering muncul adalah bahwa AI tidak memiliki sanad.
Pernyataan ini benar, tetapi sering kali dipahami secara kurang proporsional. AI memang bukan murid seorang kiai, tidak pernah duduk di majelis ilmu, tidak memperoleh ijazah hadis, dan tentu tidak memiliki mata rantai transmisi keilmuan sebagaimana tradisi Islam. Sanad adalah milik manusia, bukan milik mesin. Namun pertanyaannya bukanlah apakah AI memiliki sanad, melainkan apakah setiap orang yang menggunakan AI menganggap AI sebagai ulama atau seorang pakar?

Di sinilah letak persoalannya. Sebagian besar pengguna AI tidak sedang mencari guru spiritual. Mereka menggunakan AI sebagaimana menggunakan mesin pencari, ensiklopedia digital, atau buku elektronik: sebagai alat bantu memperoleh informasi yang kemudian tetap perlu diverifikasi kepada sumber yang memiliki otoritas.
Menariknya, pola penolakan terhadap Ustazah AI mengingatkan kita pada perdebatan beberapa tahun lalu ketika banyak artis hijrah kemudian menjadi penceramah. Saat itu, kritik yang muncul hampir sama. Mereka dianggap belajar agama hanya dari Google, YouTube, atau ceramah daring. Mereka dituding tidak memiliki kapasitas keilmuan yang memadai. Bahkan istilah “ustaz Google” sempat menjadi sindiran populer. Kini, pola yang sama kembali muncul. Bedanya, objeknya bukan lagi manusia, melainkan kecerdasan buatan.
Artinya, yang sesungguhnya diperdebatkan bukan sekadar AI, melainkan soal otoritas dalam menyampaikan agama. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sudah sangat akrab dengan AI. Mahasiswa meminta AI menjelaskan teori penelitian. Guru memanfaatkan AI untuk menyusun perangkat pembelajaran. Dokter mulai menggunakan AI sebagai alat bantu analisis. Pebisnis meminta AI membuat strategi pemasaran. Ibu rumah tangga bertanya kepada AI tentang resep masakan. Programmer meminta AI membantu menulis kode. Bahkan banyak orang meminta AI menyusun surat lamaran kerja, membuat presentasi, hingga merancang perjalanan wisata. Hampir tidak ada perdebatan berarti ketika AI membantu di bidang-bidang tersebut.
Lantas, Mengapa ketika AI tampil mengenakan hijab, berbicara dengan suara lembut, lalu menyampaikan pesan keagamaan, tiba-tiba ia dianggap ancaman?
