Mengapa AI Tidak Boleh Jadi Dai

Pertanyaan ini bukan untuk membenarkan AI tanpa batas, tetapi untuk mengajak kita bersikap lebih konsisten. Masalah utamanya bukanlah AI, melainkan bagaimana AI digunakan. Jika AI dijadikan sumber hukum agama yang final, tentu itu keliru. Jika AI dijadikan pengganti ulama, tentu itu berbahaya. Namun jika AI diposisikan sebagai media dakwah, alat komunikasi, atau bahkan pintu awal seseorang tertarik belajar agama sebelum kemudian berguru kepada orang yang memiliki kompetensi, mengapa harus langsung ditolak? Bukankah selama ini dakwah juga terus beradaptasi dengan perkembangan zaman?

Dulu dakwah dilakukan dari mimbar ke mimbar. Kemudian masuk radio. Lalu televisi. Berlanjut ke YouTube, TikTok, Instagram, podcast, hingga siaran langsung di berbagai platform digital. Hampir setiap medium baru pada awal kemunculannya selalu menuai penolakan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun seiring waktu, masyarakat belajar membedakan antara medianya dan isi pesannya. AI mungkin hanyalah babak berikutnya dari perjalanan panjang itu. Tentu AI tidak boleh dilepaskan tanpa pengawasan. Konten keagamaan yang dihasilkan AI perlu melalui proses kurasi, pemeriksaan, dan verifikasi oleh orang-orang yang memang memiliki kompetensi keilmuan. Justru di sinilah peran ulama menjadi semakin penting, bukan semakin tergantikan. AI seharusnya membantu memperluas jangkauan dakwah, sementara otoritas keilmuan tetap berada di tangan manusia.

Pada akhirnya, setiap perkembangan teknologi selalu memiliki dua sisi. Pisau dapat digunakan untuk memasak, tetapi juga bisa melukai. Teknologi dapat menjadi jalan memperoleh ilmu, tetapi juga menyebarkan hoaks. Begitu pula AI. Karena itu, sikap yang paling bijak bukanlah memusuhi teknologinya, melainkan memastikan penggunaannya berada di jalan yang benar.

Dalam tradisi Islam sendiri, seorang muslim diajarkan mengambil hikmah di mana pun ia menemukannya. Kebaikan tidak selalu datang dari sosok yang sempurna, sebagaimana keburukan pun bisa dilakukan oleh manusia yang selama ini dipandang sebagai panutan. Tidak setiap orang yang berpenampilan religius otomatis layak dijadikan teladan, dan tidak setiap teknologi baru otomatis harus dicurigai. Yang menentukan nilai sebuah media bukanlah bentuknya, melainkan bagaimana ia digunakan.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti mempertanyakan apakah AI boleh berbicara tentang agama, lalu mulai bertanya: siapa yang membimbing AI, siapa yang mengawasi isinya, dan sejauh mana masyarakat mampu bersikap kritis terhadap informasi yang diterimanya. Bayangkan jika AI yang berwujud Ustazah yang anggun jelita itu memiliki perasaan, betapa kecewanya ia lalu berpikir lebih baik meninggalkan manusia karena tidak pernah dianggap?

Tinggalkan Balasan