Gus Dur tak pernah panik pada bendera. Ia tahu bahwa makna tak melekat pada kain, tapi pada cara kita memperlakukannya. Ia tidak takut pada Bintang Kejora, karena ia percaya bahwa satu-satunya cara membuat Merah Putih benar-benar berkibar adalah dengan memperjuangkan rasa adil yang membuat semua orang ingin menaikkannya sendiri, tanpa paksaan, tanpa instruksi.
Demikian pula dengan Jolly Roger. Jika negara merasa terancam oleh tengkorak kartun di atas kain hitam, mungkin yang perlu diperiksa bukan benderanya, tapi rasa percaya dirinya.

Hari ini, anak muda Indonesia lebih tahu nama-nama kru Topi Jerami daripada nama-nama pahlawan nasional. Mungkin itu menyedihkan. Tapi lebih menyedihkan lagi jika kita tidak melakukan apa pun kecuali menyalahkan mereka.
Apa yang membuat Luffy dan kawan-kawannya begitu dicintai? Karena mereka tidak mencuri, tidak korupsi, tidak membiarkan temannya mati sendirian, dan tidak pernah meninggalkan siapa pun hanya karena kelas sosial atau nilai rapor.
Jika negara bisa mencontoh semangat itu, mungkin kita tak perlu lagi khawatir soal bendera karena Merah Putih akan dikibarkan dengan sukarela, bukan karena dijadwalkan.
Jadi, ketika kita melihat Jolly Roger berkibar di sebelah Merah Putih menjelang 17 Agustus nanti, jangan buru-buru marah. Jangan buru-buru menyebut itu sebagai “krisis nasionalisme.” Lihatlah sebagai isyarat, sebagai suara, sebagai pertanyaan: masihkah kita merasa merdeka? Bukan hanya secara politis, tapi juga secara batin.
Dan kalau jawabannya ragu-ragu, maka pekerjaan rumah kita belum selesai. Seperti kata Gus Dur: “Anggap saja itu umbul-umbul. Gitu aja kok repot.”

One Piece adalah bentuk ketidakpuasan terhadap kekuasaan yang absurd, korup, dan terjadi penindasan terhadap rakyat. One Piece bukan makar apalagi suksesi kekuasaan. Hee,,, negara sudah semakin keblinger kayaknya,,,