
Seperti terlihat pada acara Melayu Raya 2026 di Patani, Thailand Selatan, baru-baru ini, di tengah kerumunan massa berkibar pula Bendera Palestina. Kejadian ini bukan kebetulan dan bukan ikutan-ikutan tren yang mudah hilang ketika kamera telah pergi. Kejadian ini adalah suatu yang jauh lebih dalam, dari memori kolektif, dan dari ikatan sejarah yang telah mengakar selama berabad-abad di bumi Melayu.
Masyarakat Patani adalah masyarakat yang punya sejarah panjang dalam menjaga identitas dan budayanya. Mereka paham apa arti hidup di bawah tekanan untuk mempertahankan bahasa, adat, dan agama di tengah berbagai tentangan zaman yang tidak selalu berpihak. Kerena pengalaman itulah, ketika melihat Palistina, mereka tidak hanya melihat konflik yang keluar dari media sosial. Mereka melihat cermin-cermin dari perjuangan moral yang belum selesai, dari tangis seorang ibu yang hilang anaknya, dari seorang petani yang terusir dari tanah yang ia warisi turun menurun. Bagi masyarakat Patani, pegangan bahwa setiap manusia berhak untuk hidup dengan bermartabat bukan sekadar slogan. Itu adalah nilai yang mereka hidup setiap hari.

Namun pembelajaran ini tidak berhenti pada simpati semata. Ada dimensi spiritual yang mengikat jauh lebih kuat. Patani adalah masyarakat yang sangat religius. Karena itu, membela Palistina adalah panggilan suci. Apalagi di sana ada Masjid Aqsa.
Masjid Aqsa bukan sekadar nama. Ia adalah kiblat pertama umat Islam, tempat Rasulullah SAW singgah dalam peristiwa Isra Miraj yang agung. Oa adalah salah satu masjid paling mulia dalam Islam. Seperti disabdakan Rasulullah sendiri:
“Janganlah perjalanan itu memberatkan kamu kecuali ke tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Rasulullah, dan Masjidil Aqsa.” (HR. Bukhari No. 1189 & Muslim No. 1397)
Anak-anak Patani tumbuh dengan pemahaman ini sejak kecil. Maka ketika Al-Quds terluka, hati mereka ikut terluka.
Pengibar bendera Palistina adalah cara mereka menegaskan bahwa identitas Melayu tidak bisa dipisahkan seperti kecintaan warga Palistina. Pembelaan masyarakat Patani terhadap Palistina tidak sempit hanya satu dimensi. Meskipun sering ditarik ke ranah agama atau politik, bagi mereka, ini adalah perjuangan kemanusiaan dalam artinya paling luas. Mereka mencari dunia yang adil, di mana setiap manusia bisa hidup dengan martabat yang setara, di mana tidak satu pun anak kecil yang harus tidur dalam ketakutan kerena ia terlahir di tanah tertentu. Solidaritas ini melampaui batas suku, bangsa, dan agama. Ia adalah suara nurani yang menolak diam ketika kezaliman terjadi di mana pun di muka bumi.
Kibaran bendera Palistina di setiap sudut di bumi Patani, itu adalah pesan yang bisa, namun tajam, di tanah Melayu, ada sebuah bangsa yang tidak akan pernah diam melihat ketidakadilan. Selama ketidakadilan tidak milik semua bangsa Palistina, selama itu pula bendera merah, pulih, hitam, dan hijau itu akan bersanding dengan identitas Melayu, di setiap acara kebesaran, di setiap lantunan doa, di setiap detak jantung yang masih peduli kepada semua. Kerena bagi Patani, membela Palistina bukan sekadar sikap politik. Ia adalah cara mereka merawat kemanusiaan mereka sendiri.
