Jika ethos berkaitan dengan bagaimana pemimpin membangun kredibilitasnya, maka pilihan kata juga memiliki dampak emosional terhadap pendengar. Di sinilah unsur pathos menjadi penting.
Pathos: Emosi dan Efek Sosial

Pathos merupakan kemampuan pembicara untuk membangun hubungan emosional dengan audiens. Gaya bicara yang lugas dan keras dapat dipersepsikan sebagian pendukung sebagai bentuk ketegasan dan keberanian. Akan tetapi, komunikasi politik tidak berhenti di atas panggung. Pernyataan seorang presiden dapat dipotong, dikutip, disebarluaskan, bahkan dipahami dalam konteks yang berbeda oleh masyarakat.
Risikonya muncul ketika bahasa yang keras tidak lagi dipahami semata sebagai gaya retoris dalam forum politik, tetapi berpotensi dinormalisasi sebagai cara yang wajar dalam merespons kritik. Jika pola komunikasi semacam ini terus berulang, perdebatan intelektual dapat bergeser dari pengujian gagasan menuju pelabelan terhadap pribadi.
Terlebih ketika objek kritiknya adalah akademisi atau pakar. Kritik terhadap pandangan mereka tentu sah. Namun, kritik akan kehilangan kualitas intelektual ketika perbedaan pendapat justru dijawab dengan pelabelan personal atau bahasa yang merendahkan. Dalam jangka panjang, pola semacam ini berpotensi melemahkan budaya diskusi yang sehat.
Persoalannya, komunikasi politik tidak cukup berhenti pada efek emosional. Ketika sebuah pandangan dianggap keliru, pertanyaan dari masyarakat akan muncul: apakah pandangan tersebut dibantah dengan argumen? Pertanyaan inilah yang membawa kita pada logos.
Logos: Argumen vs Kekuasaan
Logos merupakan daya persuasi yang bertumpu pada logika, bukti, dan penalaran yang runtut. Dalam persoalan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan kebijakan publik, perbedaan pendapat semestinya diuji melalui data dan argumentasi.
Para pakar di berbagai bidang telah melalui proses penelitian, pengamatan, dan kajian yang panjang. Pendapat mereka tentu tidak kebal dari kritik. Akan tetapi, kritik terhadap suatu pandangan semestinya dilakukan dengan menghadirkan alasan dan bukti yang dapat diuji. Otoritas politik tidak otomatis menjadi otoritas ilmiah.
