Menjadi Ibrahim di Era Pemujaan Ambisi

Realitas sosial saat ini memperlihatkan bahwa ambisi yang tidak terkendali sering melahirkan konflik dan kegelisahan. Perseteruan keluarga, persaingan politik yang kasar, hingga budaya saling menjatuhkan di media sosial banyak dipicu oleh hasrat ingin menang sendiri.

Dalam kehidupan modern, manusia didorong untuk terus memiliki dan menguasai, seolah kehilangan sesuatu adalah kegagalan hidup. Padahal Nabi Ibrahim justru mengajarkan bahwa kemuliaan tidak selalu lahir dari apa yang dimiliki, tetapi dari apa yang rela dilepaskan karena Allah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tradisi pesantren sebenarnya telah lama mengajarkan latihan menjadi “Ibrahim-Ibrahim kecil” dalam kehidupan sehari-hari. Seorang santri dibiasakan hidup sederhana, mengurangi kenyamanan pribadi, serta mendahulukan adab dibanding hawa nafsu. Bangun sebelum subuh, taat kepada guru, dan hidup bersama dalam kesederhanaan merupakan bentuk pendidikan batin agar manusia tidak diperbudak keinginannya sendiri. Para kiai sering mengingatkan bahwa sumber kerusakan bukan hanya lemahnya ilmu, tetapi kuatnya nafsu yang tidak dikendalikan.

Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail dalam Surah As-Saffat ayat 102 memperlihatkan dialog yang sangat mendalam tentang kepasrahan dan iman. Ketika Ibrahim menyampaikan perintah Allah melalui mimpinya, Ismail tidak menolak atau menyalahkan keadaan. Ia justru berkata, “Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”

Tinggalkan Balasan