Lalu dengan lantang Bung Tomo menyerukan kalimat takbir Allahu Akbar untuk menggerakkan hati para pemuda. Aksi Bung Tomo tersebut merupakan perintah langsung dari KH Hasyim Asy’ari untuk menjadi orator perang yang akan membakar semangat juang pemuda. Perintah perang (resolusi jihad) tersebutlah yang kelak akan melahirkan Hari Santri Nasional di Indonesia setiap tanggal 22 Oktober.
Selang beberapa hari, datanglah pasukan Sekutu ke Surabaya. Mereka sempat kewalahan menghadapi rakyat Indonesia yang lebih banyak. Sehingga mereka meminta presiden pertama Indonesia untuk menghentikan pertempuran. Namun, karena licik, mereka menggunakan mesin pembunuhnya untuk mengultimatum rakyat Indonesia agar bertekuk lutut kepada Sekutu, yang sama artinya dengan tidak mengakui Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Dengan semangat yang masih membara, para pemuda pribumi tetap melanjutkan pertempuran tersebut. Hingga pada akhirnya ratusan ribu korban meninggal saat pertempuran baik dari Sekutu maupun rakyat Indonesia. Meskipun penuh duka lara, tapi Indonesia berhasil memenangkan pertempuran tersebut.
Atas peristiwa itu, dari tahun ke tahun selalu diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Itu artinya, semangat para pahlawan dahulu harus terus diwariskan kepada setiap generasi. Saat ini, peringatan Hari Pahlawan mengambil tema “Semangat pahlawan untuk masa depan bangsa dalam memerangi kemiskinan dan kebodohan”. Tema Peringatan Hari Pahlawan memang selalu disesuaikan dengan situasi dan kondisi zaman. Namun, warisan semangat tersebut tidak kemudian menjadi alasan pemuda saat ini untuk mengambil jalur perang fisik dalam setiap problem sosial politik.
Sama-sama berperang, hanya saja konteksnya yang berbeda. Saat ini, kemiskinan dan kebodohan adalah penjajahan terhadap jiwa raga manusia yang harus diperangi. Berdasarkan situs resmi Badan Pusat Statistik, jumlah kemiskinan di Indoensia per bulan Maret 2023 mencapai 25,90 juta orang atau setara dengan 9,36 persen dari populasi. Selain itu, situs resmi worldtop20.org memublikasi urutan 20 pendidikan terbaik di dunia. Namun, Indonesia tidak masuk di dalamnya. Bahkan, Indonesia menempati peringkat 67 dari 203 negara di dunia. Sedangkan, UNESCO menyebutkan bahwa Indonesia menempati peringkat kedua dari bawah untuk bidang literasi. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan terhadap stabilitas sekaligus wibawa Bangsa Indonesia di mata dunia.

Mantap, “Menjadi pahlawan, setidaknya, bagi diri sendiri”
🙏