Menyelamatkan Literasi, Menyelamatkan Pesantren

Dalam konteks pesantren, functional literacy mencakup kemampuan memahami teks keagamaan secara mendalam dan kontekstual, menyampaikan gagasan secara tertulis dengan baik, dan menggunakan pengetahuan untuk merespons tantangan zaman.

Functional literacy tidak hanya menjadikan santri melek huruf, tetapi juga membekali mereka dengan kecakapan hidup. Ketika santri memiliki daya literasi yang kuat, mereka tidak mudah terprovokasi oleh narasi keagamaan yang sempit, tidak gampang terpancing oleh ujaran kebencian, dan lebih mampu memfilter informasi dengan akal sehat dan hati nurani. Inilah jenis literasi yang dibutuhkan pesantren hari ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sayangnya, belum banyak yang peka terhadap masalah ini. Beberapa pesantren justru masih bergulat pada tahap basic literacy para santrinya. Secara lebih luas, data dari UNESCO mencatat bahwa hanya 0,001% masyarakat Indonesia yang tergolong rajin membaca. Sementara itu, riset World’s Most Literate Nations Ranked oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari 61 negara terkait minat baca.

Tentu masalah ini tidak lahir begitu saja. Ada banyak faktor yang melatarbelakanginya, termasuk kemiskinan, stunting, ketimpangan akses pendidikan, dan lain sebagainya. Namun, yang menjadi akar persoalan paling kokoh adalah bahwa kita tidak terbiasa berpikir kritis. Padahal, berpikir kritis adalah hal paling fundamental dalam menyelesaikan krisis literasi yang kita hadapi hari ini.

Tak heran, jika dalam Al-Qur’an kita menemukan banyak sekali ayat yang memerintahkan kita untuk selalu berpikir kritis. Dilansir dari tafsirq.com tak kurang dari 71 ayat Al-Qur’an diberi tag “perintah untuk berpikir dan menghayati.” Ayat-ayat ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mendorong umatnya untuk terus berpikir kritis.

Di sisi lain, krisis ini juga tumbuh dari kultur yang diam-diam mengakar: budaya takut salah. Kita tumbuh dalam lingkungan yang kerap menghukum kesalahan, bukan memaknainya sebagai bagian dari proses belajar. Akibatnya, banyak yang memilih diam ketika seharusnya bicara, ragu bertanya ketika seharusnya mencari tahu, dan enggan mencoba ketika kesempatan terbuka. Padahal, kesalahan adalah guru yang paling jujur. Dari kesalahan, kita belajar rendah hati; dari kegagalan, kita belajar untuk bangkit dan mencoba lagi.

2 Replies to “Menyelamatkan Literasi, Menyelamatkan Pesantren”

Tinggalkan Balasan