Di era digital kini, kita juga dihadapkan lagi pada persoalan lain yang tak kalah pelik. Yakni, ketika semuanya serba instan. Informasi datang begitu cepat, disajikan dalam potongan-potongan pendek yang mudah dicerna. Sekilas, hal ini memang tampak memudahkan. Padahal kenyataannya, budaya yang serba instan ini pada akhirnya akan membuat otak kita tumpul, karena semua jawaban sudah tersedia secara instan. Kita tidak akan terbiasa lagi bertanya “kenapa” dan semakin jarang untuk menggali dan mencari pemahaman yang lebih luas.
Tanggung Jawab Siapa?

Kemudian pertanyaannya: siapa yang bertanggung jawab menyelesaikan masalah ini? Tak bisa dimungkiri bahwa krisis literasi adalah persoalan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali pesantren. Namun, pada akhirnya pihak yang paling bertanggung jawab menyelesaikan problem ini tidak lain adalah kita sendiri: para santri
Santri tidak bisa lagi hanya menjadi penerima ilmu dan informasi secara pasif. Santri harus menjadi agen perubahan, penebar nalar sehat, dan penjaga akal waras di tengah derasnya arus informasi. Kita adalah pewaris tradisi keilmuan ulama. Dan tradisi itu tak akan hidup hanya dengan hafalan, melainkan dengan keberanian membaca, menulis, dan berpikir kritis sebagaimana dicontohkan oleh Imam al-Ghazali, Ibnu Khaldun, hingga KH Hasyim Asy’ari.
Sudah bukan zamannya lagi santri hanya jadi penonton. Literasi harus menjadi tradisi yang hidup sehari-hari, bukan hanya slogan tahunan. Gus Baha’ pernah mengingatkan, “Zaman sekarang itu tidak baik untuk bersikap tawadhu’. Zaman sekarang waktunya para ahli ilmu menampakkan dirinya pada bidangnya.” Maka, santri harus berani bersuara, menulis, dan berpikir terbuka. Karena jika orang alim diam, panggung akan dikuasai oleh mereka yang bersuara tanpa ilmu.
Untuk menyelesaikan krisis ini, kita bisa memulai dengan hal sederhana. Misalnya, dengan selalu bertanya “kenapa” terhadap setiap fenomena yang kita temui. Kebiasaan ini akan melatih dan meningkatkan taraf kemampuan berpikir kritis. Selain itu, membiasakan diri membaca buku juga bisa menjadi salah satu solusi penting. Menjadikan membaca sebagai kewajiban, tidak hanya sebuah hobi. Sebagaimana wahyu yang pertama kali diturunkan: iqra’.

Wah, mantap nih analisisnya. Bagaimana situasi terkini LITERASI di PP Annuqayah, Mas?
Secara umum, masih ter-cover dengan baik 🙂