Diskusi Teks dan Konteks
Secara umum sebuah teks di dalam kitab dapat didiskusikan sesuai teks dan konteksnya. Teks merupakan lafaz yang tertulis sebagai rangkaian huruf, kata, dan kalimat. Teks memiliki makna tertentu sesuai dengan kosa kata yang ada.

Sementara itu, konteks merupakan makna keseluruhan yang padu antara satu narasi dengan narasi lainnya. Oleh sebab itu, dari perbedaan (bukan kontradiksi) teks kita bisa menyelami target makna yang paling mendekati. Sesuai dengan konteks (syiyaqul kalam) di dalam sebuah paragraf.
Masing-masing personal memiliki kesempatan untuk membangun narasi logika. Selama tidak bertentangan dengan kaidah syara’, maka memberikan pandangan terhadap sebuah teks dipandang sebagai keabsahan. Tidak ada hukum debat (diskusi) yang membatasi seseorang untuk memberikan tafsiran. Selama dilakukan dengan cara yang baik (bahasa Al-Qur’an: ahsan), maka hal tersebut boleh-boleh saja.
Mungkin saja pembaca memiliki pandangan lain terhadap teks kitab yang berbeda tersebut. Boleh jadi cenderung ke kalimat ini atau kalimat lainnya. Ruang diskusi masih sangat terbuka. Mari kita membangun narasi debat sebagaimana yang diamanatkan oleh Al-Quran dalam QS. An-Nahl 125:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.”
Wallahu A’lam!
