Menyoal Kredo Kembali ke Al-Qur’an dan Hadis

Islam datang sebagai rahmat bagi semesta. Ia bukan sekadar ritual, tapi juga etika yang mengajarkan kasih sayang, keadilan, dan kebijaksanaan.

Tapi hari ini, kita menyaksikan fenomena ganjil sebagian umat Islam justru terjebak dalam debat kusir tentang “bidah”, “kembali ke Al-Qur’an dan Hadis”, atau klaim “pemurnian akidah”, sambil melupakan esensi rahmat itu sendiri. Ironisnya, mereka yang paling lantang menyuarakan jargon-jargon itu sering kali tak memiliki alat dasar untuk memahami teks agama semisal ilmu nahwu dan ushul.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Mari kita renungkan: “Bagaimana mungkin seseorang berani menafsirkan Al-Qur’an dan Hadis yang notabene berbahasa Arab tinggi (fusha) tanpa menguasai tata bahasanya?

Imam Al-Ashma’i, pakar bahasa abad ke-8, pernah berpesan: “Aku paling takut pada penuntut ilmu yang tak belajar nahu. Ia bisa terjatuh dalam dusta atas nama Nabi”

وقال أبو داود السنجي : سمعت الأصمعي يقول : إن أخوف ما أخاف على طالب العلم إذا لم يعرف النحو أن يدخل في جملة قول النبي صلى الله عليه وسلم : ” من كذب علي فليتبوأ مقعده من النار ” ; لأنه لم يكن يلحن ، فمهما رويت عنه ولحنت فيه كذبت عليه .

Ini bukan ancaman kosong. Lihatlah hadis “Kullu bid’atin dalalah” (Setiap bidah adalah sesat) yang sering dijadikan senjata untuk menghakimi tradisi.

Mari coba kita bedah dengan kacamata nahu. Kata “kullu” (كل) dalam struktur kalimat Arab tidak selalu bermakna “seluruh atau semua tanpa kecuali”. Ia bisa berarti “sebagian besar” atau “umum”.

Tinggalkan Balasan