الكل في حكمنا على المجموع ككل ذاك ليس ذا وقوع حيثما لكل فرد حكما فإنه كلية قد علمت.
Apalagi, mubtada’ (subjek) dalam hadis tersebut berbentuk nakirah (indefinite), bukan ma’rifat (definite). Jika Nabi ingin menyatakan semua bidah pasti sesat, (mungkin) beliau akan menggunakan struktur yang definitif, seperti Al-bid’atu kulluha dalalah. Nyatanya, Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan:

وكل بدعة ضلالة هذا عام مخصوص و المراد غالب البدع
“Hadis ini umum yang dikhususkan. Yang dimaksud adalah kebanyakan bidah, bukan semua.”
Artinya, bidah hasanah—seperti kodifikasi Al-Qur’an di zaman Utsman atau salat Tarawih berjamaah—tetap sah selama selaras dengan maqashid syariah.
Lalu, mengapa sebagian orang begitu mudah menyematkan label “sesat” pada amalan seperti tahlil, sementara Al-Qur’an yang mereka pegang adalah hasil ijma’ para sahabat, sebuah inovasi yang tak ada di zaman Nabi? Di sinilah letak paradoksnya: Mereka menolak tradisi lokal dengan dalih “anti-bidah”, tetapi tanpa sadar mengikuti bidah lain yang telah disepakati ulama sebagai kemaslahatan.
Masalahnya makin runyam ketika klaim “kembali ke Al-Qur’an dan Hadis” justru digaungkan oleh mereka yang bergantung pada terjemahan. Padahal, terjemahan adalah tafsir yang disederhanakan dan setiap penerjemah pasti membawa perspektif mazhabnya.
