Kain merah dan putih itu
bergerak pelan di antara angin,
seperti doa yang baru saja
dilepaskan dari bibir-bibir
yang selesai mengaji.
Kami berdiri di bawahnya
para santri dengan peci,
seragam yang belum sepenuhnya rapi,
dan dada yang diam-diam
menyimpan banyak tanya.

siapa mereka
yang dahulu berani menukar
masa depan dengan nyawa.
Kami mengenang mereka
bukan hanya melalui nama
yang tertulis di batu-batu makam,
bukan sekadar melalui upacara
dan lagu yang dinyanyikan
setiap bulan Agustus.
Mereka adalah jejak
di jalan yang kami lewati,
adalah tanah yang tetap subur
meski pernah disiram darah,
adalah suara yang masih terdengar
dari cerita para kiai
di serambi pesantren.
Dari mereka kami belajar,
bahwa merdeka bukan sekadar
bebas mengibarkan bendera.
Merdeka adalah ketika
anak-anak dapat membaca
tanpa takut pada kelaparan,
ketika ilmu tidak hanya tinggal
di rak-rak sekolah;
ketika kebenaran tidak dipaksa
menunduk di hadapan kuasa.
Merdeka adalah
ketika tangan yang berbeda
tidak sibuk saling menunjuk,
ketika perbedaan tidak dijadikan
alasan untuk saling menjauh,
dan ketika keadilan
tidak hanya menjadi kata
di dalam pidato.
Dulu, mereka menyambung
harapan negeri ini
dengan senapan,
dengan bambu runcing,
dengan doa yang panjang
di tengah malam yang gelap.
Hari ini,
kami menyambungnya
dengan kitab yang terus dibaca,
dengan ilmu yang diamalkan,
dengan tangan yang menolong
tanpa bertanya siapa yang berbeda.
