Maulid, Kemerdekaan, dan Nabi yang Membela Kaum Tertindas

Setiap kali bulan Maulid datang, suasana umat Islam berubah menjadi lebih semarak. Masjid dihias, spanduk dibentangkan, panggung didirikan, sound system diperbesar, dan penceramah didatangkan. Kita bershalawat, membaca sirah Nabi, lalu makan bersama. Semuanya baik. Tidak ada yang perlu dipersoalkan.

Tetapi ada satu pertanyaan yang barangkali sedikit mengganggu kemeriahan itu: setelah Maulid selesai, lalu apa?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebab agak aneh jika kita begitu bersemangat memperingati kelahiran Nabi Muhammad, tetapi tidak terlalu bersemangat meneladani perjuangannya.

Kanjeng Nabi Muhammad bukan sekadar manusia yang lahir untuk dikenang. Ia hadir di tengah masyarakat yang penuh ketimpangan. Ada yang kuat dan lemah, kaya dan miskin, tuan dan budak, penguasa dan mereka yang tidak memiliki kekuasaan. Maka risalah yang dibawanya bukan sekadar mengajarkan bagaimana manusia beribadah kepada Tuhan, tetapi juga bagaimana manusia memperlakukan manusia.

Kalimat “la ilaha illallah bukan hanya persoalan metafisik. Ia juga merupakan pembebasan manusia dari penghambaan kepada selain Allah. Jika hanya Allah yang mutlak, maka tidak boleh ada manusia yang diperlakukan seolah-olah mutlak. Tidak boleh ada kekuasaan yang merasa dirinya tidak pernah salah. Tidak boleh ada kekayaan yang merasa dirinya bebas menggunakan manusia. Dan tidak boleh ada agama yang hanya sibuk mengurus keselamatan akhirat sambil membiarkan ketidakadilan berlangsung di dunia.

Di sinilah Maulid semestinya dibaca lebih dalam.

Ali Syari’ati mengingatkan bahwa agama memiliki dimensi pembebasan. Tauhid tidak boleh hanya menjadi keyakinan di dalam kepala, tetapi harus melahirkan kesadaran untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk penghambaan dan penindasan. Agama, dalam pembacaan Syari’ati, seharusnya membangunkan manusia dari tidur sejarah, bukan justru membuat manusia nyaman di dalam ketidakadilan.

Maka pertanyaannya menjadi sederhana: apakah Maulid membuat kita lebih peka terhadap penderitaan manusia?

Kalau tidak, barangkali kita terlalu sibuk memperingati hari lahirnya Nabi, tetapi lupa kepada nilai yang diperjuangkannya.

Kita hafal kisah Bilal, tetapi tidak peduli kepada manusia yang hari ini masih diperlakukan seperti budak. Kita membaca tentang keberpihakan Nabi kepada kaum miskin, tetapi masih merasa biasa saja ketika melihat orang miskin kesulitan makan. Kita menangis ketika mendengar kisah Nabi, tetapi tidak tergerak ketika melihat ketidakadilan.

Bukankah ada sesuatu yang ganjil?

Hasan Hanafi, melalui gagasan Kiri Islam, menghendaki agar Islam kembali menjadi kekuatan transformatif. Teologi tidak boleh berhenti di langit, tetapi harus turun ke bumi untuk berhadapan dengan kemiskinan, keterbelakangan, kolonialisme, dan penindasan. Islam harus memiliki keberpihakan kepada mereka yang dilemahkan oleh struktur sosial dan politik.

Dengan begitu, Maulid bukan hanya tentang mengingat siapa Kanjeng Nabi Muhammad, tetapi juga bertanya: di pihak mana kita berdiri ketika berhadapan dengan ketidakadilan?

Sebab Nabi tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menjadi penonton. Ia berdiri bersama Bilal, kaum miskin, anak yatim, perempuan, dan mereka yang tidak memiliki kekuasaan. Ia berhadapan dengan elite Quraisy bukan karena sekadar ingin mengganti nama penguasa, tetapi karena ada tatanan sosial yang membuat manusia diperlakukan secara tidak adil.

Asghar Ali Engineer kemudian membaca Muhammad sebagai seorang pembebas. Dalam Islam and Liberation Theology, Engineer bahkan menyediakan bagian khusus berjudul “Muhammad as Liberator”. Bagi Engineer, Islam memiliki dimensi pembebasan yang kuat: tauhid, keadilan, persaudaraan dan perjuangan melawan penindasan tidak boleh dipisahkan dari kehidupan sosial umat.

Maka, kalau ulama hanya sibuk mengajarkan kesabaran kepada orang miskin, tetapi tidak pernah mengingatkan orang kaya tentang kewajiban sosialnya; jika ulama hanya mengajarkan rakyat agar taat kepada pemimpin, tetapi tidak pernah mengingatkan pemimpin agar takut menzalimi rakyat, kita patut bertanya: apakah agama sedang menjadi cahaya atau justru tirai?

Ulama semestinya berada di barisan terdepan ketika rakyat tertindas. Bukan hanya berdiri di depan ketika pejabat datang ke pengajian, tetapi juga berdiri di depan ketika tanah rakyat dirampas, buruh diperas, orang miskin disingkirkan, dan suara masyarakat kecil tidak didengar.

Kanjeng Nabi Muhammad tidak mendidik manusia menjadi pengecut di hadapan kekuasaan. Ia justru mendidik manusia agar hanya takut kepada Allah. Dan manusia yang hanya takut kepada Allah seharusnya tidak mudah tunduk kepada manusia.

Maulid dan Kemerdekaan

Ada kebetulan yang menarik. Maulid tahun ini datang di tengah suasana peringatan kemerdekaan Indonesia. Agustus membuat kita berbicara tentang kemerdekaan. Maulid mengingatkan kita tentang pembebasan. Keduanya sebenarnya memiliki percakapan yang sama.

Kita sering berkata Indonesia sudah merdeka. Tetapi pertanyaannya: merdeka bagi siapa?

Kita memang sudah terbebas dari kolonialisme dalam bentuk penjajahan langsung. Tetapi apakah kemerdekaan telah benar-benar dirasakan oleh mereka yang hidup dalam kemiskinan, ketimpangan, ketidakadilan dan ketidakberdayaan?

Tidak ada gunanya mengusir penjajah dari tanah air jika sesudah itu manusia Indonesia justru saling menindas. Tidak ada gunanya mengibarkan Merah Putih setinggi langit jika rakyat kecil masih merasa hidupnya begitu rendah.

Kemerdekaan bukan hanya soal bendera. Kemerdekaan adalah ketika manusia memiliki martabat. Ketika buruh mendapatkan haknya. Ketika petani tidak kehilangan tanahnya. Ketika nelayan tidak kehilangan lautnya. Ketika rakyat dapat mengkritik pemerintah tanpa rasa takut. Dan ketika hukum tidak tajam kepada yang lemah tetapi tumpul kepada yang kuat.

Bukankah semangat seperti itu pula yang kita temukan dalam perjuangan Nabi?

Karena itu, peringatan kemerdekaan dan Maulid seharusnya tidak berdiri sebagai dua seremoni yang terpisah. Keduanya mengingatkan kita bahwa manusia harus dibebaskan dari segala bentuk penindasan.

Indonesia merdeka membutuhkan umat Islam yang juga merdeka secara moral. Merdeka untuk mengatakan benar kepada kekuasaan ketika kekuasaan salah. Merdeka untuk membela rakyat kecil ketika kepentingan elite sedang berbicara. Merdeka untuk menggunakan agama sebagai suara nurani, bukan sebagai stempel pembenar bagi kekuasaan.

Sebab kekuasaan, betapapun besar, tetap akan berakhir. Jabatan berganti. Gedung dibongkar. Nama pejabat dilupakan. Tetapi penderitaan rakyat yang dibiarkan akan menjadi catatan sejarah yang panjang.

Maka jangan sampai kita menjadi umat yang paling rajin membaca kisah Nabi, tetapi paling malas mengikuti keberpihakannya.

Jangan sampai kita paling lantang bershalawat, tetapi paling sunyi ketika orang lemah membutuhkan pembelaan.

Jangan sampai kita memperingati Nabi sebagai manusia paling mulia, tetapi lupa bahwa kemuliaannya justru tampak dari keberaniannya berdiri bersama mereka yang tidak dimuliakan oleh masyarakat.

Barangkali itulah Maulid yang kita butuhkan. Maulid yang tidak selesai ketika lampu masjid dimatikan. Maulid yang ikut pulang bersama jamaah.

Masuk ke pasar, kampus, kantor, parlemen, ruang-ruang kekuasaan, dan rumah-rumah orang miskin.

Maulid yang membuat kita tidak nyaman melihat ketidakadilan. Maulid yang membuat ulama berani mengkritik kekuasaan. Maulid yang membuat orang kaya merasa malu ketika tetangganya kelaparan. Maulid yang membuat kaum terdidik tidak hanya sibuk memperdebatkan teori, tetapi juga memikirkan manusia yang hidup di luar buku.

Sebab, Kanjeng Nabi Muhammad tidak membutuhkan kita untuk mengagungkannya. Beliau sudah mulia.

Yang membutuhkan keberpihakan kita adalah mereka yang hari ini tidak punya kuasa, tidak punya modal, tidak punya koneksi, bahkan tidak punya suara.

Di sanalah barangkali ukuran kecintaan kita kepada Nabi dapat diuji. Bukan pada seberapa megah panggung Maulid kita. Bukan pada seberapa mahal konsumsi yang kita hidangkan. Bukan pula pada seberapa panjang shalawat yang kita lantunkan.

Tetapi pada satu hal sederhana: ketika melihat manusia dizalimi, apakah kita memilih diam atau berdiri?

Sebab mencintai Kanjeng Nabi bukan hanya menangis ketika namanya disebut. Mencintai Kanjeng Nabi adalah berani meneruskan nilai yang ia perjuangkan. Dan nilai itu adalah keadilan, persaudaraan, kemanusiaan dan pembebasan.

Agustus mengajarkan kita tentang kemerdekaan. Maulid mengajarkan kita tentang pembebasan. Maka barangkali cara paling jujur merayakan keduanya adalah dengan memastikan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya menjadi cerita tentang masa lalu, dan Maulid Nabi tidak hanya menjadi seremoni tahunan.

Keduanya harus menjadi keberanian untuk mengatakan: tidak kepada penindasan, tidak kepada kesewenang-wenangan, dan ya kepada kemanusiaan.

Sebab umat Kanjeng Nabi Muhammad semestinya bukan umat yang hanya pandai mengenang sejarah. Ia harus menjadi umat yang berani membuat sejarah.

Daftar Pustaka

Engineer, Asghar Ali. Islam dan Pembebasan. Yogyakarta: LKiS, 2007.

Engineer, Asghar Ali. Islam dan Teologi Pembebasan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hanafi, Hasan. Kiri Islam. Yogyakarta: LKiS.

Syari’ati, Ali. Agama versus Agama. Bandung: Pustaka Hidayah, 1994.

Tinggalkan Balasan