MERDEKA YANG LAHIR DARI DOA DAN PERJUANGAN

MERDEKA YANG LAHIR DARI DOA DAN PERJUANGAN

Di bilik subuh, sebelum ompreng membangunkan pagi,
kau sudah bersujud, memeluk bumi dengan dahi yang basah.
Doa-doa kecil merayap di antara sajadah yang mulai usang,
lalu diam-diam menjadi benih yang kelak tumbuh jadi pohon kemerdekaan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di halaman pesantren, angin membawa aroma kopi dan kitab,
santri-santri berjalan pelan, mimpi mereka terlipat rapi di saku baju.
Mereka tahu: merdeka bukan sekadar teriak di lapangan upacara,
tapi juga diam yang penuh makna di sepertiga malam,
ketika dunia tidur dan hanya Tuhan yang terjaga.

Merdeka lahir dari tangan yang tak pernah lelah menulis di buku catatan,
dari lisan yang tak bosan mengaji meski tenggorokan kering,
dari kaki yang rela berjalan jauh hanya demi mengejar ilmu.
Merdeka adalah buah dari doa yang tak putus-putus,
dan perjuangan yang tak kenal lelah, meski kadang tak ada yang melihat.

Di sudut kelas, guru membacakan ayat tentang keadilan,
suaranya parau, tapi matanya menyala seperti pelita di tengah gelap.
Merdeka bukan hadiah, katanya,
ia lahir dari doa yang tulus dan perjuangan yang ikhlas.

Maka ketika bendera berkibar di langit Agustus,
ingatlah: di balik tiap helaan angin,
ada doa-doa santri yang pernah merintih di malam sunyi,
ada keringat pejuang yang pernah menetes di tanah pertiwi,
menjadi saksi bahwa negeri ini tak gratis merdeka.

Merdeka yang lahir dari doa dan perjuangan,
bukan sekadar kata di pidato atau slogan di spanduk,
tapi napas yang terus mengalir di dada santri,
menjadi semangat untuk menjaga negeri,
dengan hati yang selalu bersyukur dan tangan yang selalu siap berbagi,
meski yang dimiliki hanya sedikit, bahkan kadang hanya seadanya.

 

17 AGUSTUS, MEREKA YANG GUGUR

Pagi masih menyimpan embun
ketika bendera dinaikkan
di halaman pesantren.

Tinggalkan Balasan