MERPATI DAN HUJAN

SELAWAT RINDU

Di perbukitan hijau
Sayup terdengar lantunan cinta
Yang terdengar merdu
Ketika namamu dinazamkan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di sebuah kota besar
Namamu tak henti diterjemahkan
Bahkan di kedua bibirku ini
Namamu selalu tertasbihkan.

Rindu yang berselawat ini
Adalah bisikan yang anggun
Dan dekat.

Aku merindukanmu dengan syahdu
Dengan restu serta izin
Seperti selawat yang dilantunkan
Untuk baginda ketika merindu.

Tasikmalaya, 28 Februari 2013.

PENGAKUAN DI MADINAH

Langit malam menyelimuti Madinah
Berbondong lekas menuju Nabawi yang khusyuk
Berselimut doa dan harapan.

Aku berziarah ke dalam diri, kotoran menumpuk
Penuh pada tubuhku
Dosa bertumbuh tinggi dalam jiwaku
Tinggi hatiku perlahan lesu
Tiada yang maha tinggi, kecuali adalah Dia.

Nabawi memberikanku tempat
Untuk menangis semalaman–terus menerus
Dalam sujud tak berkesudahan
Tersedu mengutuki diri
Dalam pengampunan tak terbatas
Terisak memaki diriku sendiri.

Syukur takkan tergerus
Dengan menyebut namaMu
Yang Maha Pengasih
Lagi Maha Penyayang.

Madinah, 2018.

TANPAMU SEMUA JADI REPOT
–Teringat Gus Dur

Dunia bagaikan himpitan kursi kekuasaan
Hamparan janji terbentang di padang harapan
Serta dalil yang terselubung di antara ayat
Menggumamkan bahwa hidup tidak sekadar
Tentang satu: ada dua, ada tiga, ada empat
Dan banyak sekali sesuatu yang beraneka.

Namun, barang sebentar saja, Gus
Tiada yang peduli saat ini
Semua tertundukkan oleh satu
Tanpa melihat dua, tiga dan bahkan empat
Semua mudah mengatasnamakan Tuhan
Untuk sekadar kepentingan.

Sungguh tanpamu semuanya menjadi repot
Terlalu banyak yang diperjualbelikan
Terlalu banyak yang diobralkan
Terlalu banyak sakit hati
Terlalu banyak tinggi hati
Semua bersandiwara sebagai yang paling
Menyedihkan.

Bukankah itu semua bikin persoalan, Gus?
Sungguh tanpamu semua menjadi repot.

Yogyakarta, 19 Februari 2017.

MERPATI DAN HUJAN LEBAT

Seekor merpati mendatangiku pada sore di hari raya
Dia ucapkan salam–juga rindu, katanya rindu darimu
Keesokan harinya hujan lebat menemaniku sejak petang
Hingga malam.
Mungkinkah hujan itu tangisanmu
Yang membuat tubuhku menggigil kedinginan?

Jakarta, 25 April 2023.

Sumber ilustrasi: istock.

Biodata Penyair:

Imana Tahira lahir di Tasikmalaya pada tahun 1995. Menempuh pendidikan dasar dan menengah di Pondok Pesantren Cipasung dan menyelesaikan pendidikan tingginya di Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Puisi-puisinya pernah termuat dalam sejumlah antologi, antara lain “Seratus Perempuan dalam Puisi” (2014), “Yogya Halaman Indonesia Jilid II” (2017) dan antologi puisi muslimah penyair “Berbagi Zikir” (2017). Di kampusnya ia bergabung dengan teater ESKA dan menemukan keseriusan dalam bersastra.

Selepas kuliah pernah menjadi reporter dan tim kreatif di Trans TV, kemudian menjadi Host Podcast di kanal YouTube INANEWS TV dan Kuatbaca.com. Selain bekerja, di Jakarta ia bergabung dengan Komunitas Lentera Kata dan terlibat sebagai pemain dalam garapan teater “Obrok Owok-owok Ebreg Ewek-ewek” karya Danarto yang dipentaskan di Taman Ismail Marzuki. Aktif menjadi pemandu acara dan moderator dalam sejumlah diskusi budaya maupun bedah buku.

Tinggalkan Balasan