Misteri Nama Tuhan yang Ke-100

Dalam pengembaraan yang panjang, hampir dua tahun, itulah Balthasar memergoki potret relasi, pertikaian, dan perselingkuhan antara agama-agama dan politik berkelindan hingga mendorong manusia berbuat apa saja terhadap sesamanya. Termasuk, bagaimana buku yang berisi separo keyakinan dan setengahnya takhayul itu diperebutkan.

Buku itu justru selalu mendatangkan malapetaka, dan akhirnya kiamat yang ditunggu tak datang juga, malah Ratu Adil atau Sang Juru Penyelamat yang dipercaya akan memberikan berkat tak lebih dari seorang penipu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Buku itu selalu berpindah-pindah tempat, hingga Balthasar menemukannya di London. Seperti peristiwa di tempat-tempat lain ketika buku itu disimpan, saat Balthasar berhasil menemukan buku itu London dirundung kekacauan. Kebakaran hebat terjadi di seluruh kota. Semua orang asing dicurigai sebagai biangnya. Balthasar harus melarikan diri.

Pelarian Balthasar berakhir di Genoa, tanah kelahiran leluhurnya. Ia membawa serta buku itu; Nama Tuhan yang Keseratus. Namun, ketika kehidupannya kembali normal, Balthasar tetap tak bisa membacanya —seperti saat bersama buku itu di Gibelet atau di London. Setiap membuka-buka halamannya, matanya selalu tertutup selaput kegelapan, kepalanya serasa berputar-putar seperti gasing, tubuhnya lungkrah.

Ia merasa buku itu tertutup untuk matanya. “Mungkin aku tak benar-benar layak mendapatkannya. Barangkali aku terlalu takut menemukan apa yang tersembunyi di dalamnya. Akan tetapi, barangkali buku itu memang tak menyembunyikan apa pun,” demikian kalimat terakhir Balthasar dalam jurnal pengembaraannya.

Karena itu, secara diam-diam ia berniat meninggalkan buku itu di sebuah rak toko buku dan berharap kelak, bertahun-tahun kemudian, ada tangan lain yang bisa mengambilnya, ada sepasang mata lain yang bisa membacanya.

Balthasar pun memulai hidup baru di Genoa, 1 Januari 1667.

***

Amin Maalouf, yang kelahiran Lebanon, 25 Februari 1949, dan kemudian hidup di Prancis, ini menghabiskan banyak waktunya sebagai seorang jurnalis. Sebagai wartawan, ia banyak meliput dan mengunjungi daerah-daerah perang di Timur Tengah dan Afrika. Itulah yang kemudian menjadi latar dari banyak novel yang ditulisnya.

Namun, latar yang dihadirkan adalah abad-abad di mana peradaban Islam mulai melewati puncak kejayaannya dan peradaban Barat mulai menapak jalan menuju kejayaannya. Karena itu, persinggungan antara Islam, Yahudi, dan Kristen terasa kental dalam karya-karya Amin Maalouf seperti tergambar dalam Leo The African, Cadas Tanios, Samarkand, Misteri Rubaiyat Omar Khayyam, dan lainnya. Kita tak bisa berhenti membacanya dari hanya satu bukunya. Bahkan menuntut membaca teks-teks lain di luar dari buku karyanya.

Data Buku

One Reply to “Misteri Nama Tuhan yang Ke-100”

Tinggalkan Balasan