Misteri Nama Tuhan yang Ke-100

Selalu seperti ini: nyaris tak bisa berhenti ketika sedang membaca buku-buku karya Amin Maalouf meskipun halaman terakhir sudah terlewati. Amin Maalouf seperti masih terus menyuguhkan teks cerita yang entah tersembunyi di mana…

Begitu yang saya rasakan ketika saya membaca Leo The African, Cadas Tanios, Samarkand, dan Misteri Rubaiyat Omar Khayyam. Dan itu pula yang terjadi ketika kini saya sedang membaca Mencari Nama Tuhan yang Keseratus. Karya Amin Maalouf ini memang benar-benar buku cerita yang kaya cerita.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Buku dengan judul asli Balthasar’s Odyssey terbitan Vintage, London, pada 2003 ini sebelumnya juga pernah diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh penerbit yang berbeda. Sebelumnya, pada 2006, Serambi Ilmu pernah menerbitkan buku ini dengan judul sama dengan judul aslinya, Balthasar’s Odyssey, namun diberi anak judul Nama Tuhan yang Keseratus. Kali ini, Mei 2021, Diva Press menerbitkannya dengan judul baru, Mencari Nama Tuhan yang Keseratus.

Tapi, pusat kisah dalam Balthasar’s Odyssey, yang berarti pengembaraan Balthasar, ini memang cerita pengembaraan sang tokoh yang tak lain adalah pedagang buku untuk menemukan sebuah buku misterius berjudul Nama Tuhan yang Keseratus.

Buku ini mengambil setting pertengahan abad ke-17 pada daerah-daerah yang menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Turki atau Ottoman. Jika kita membaca ulang studi riset yang dilakukan Ahmet T Kuru (dalam Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan), setting yang diambil Amin Maalouf adalah abad-abad di mana ketika dunia Muslim “berjalan mundur” dan dunia Barat (Eropa) “berjalan maju”, dan keduanya bertemu di titik yang sama, “titik keseimbangan”. Kedua peradaban ini mulai memiliki kekuatan yang seimbang —setelah abad-abad itu peradaban dunia Muslim semakin mundur dan dunia Barat semakin maju.

Dengan latar itu, menjadi wajar jika kisah dalam Mencari Nama Tuhan yang Keseratus ini melibatkan begitu banyak tokoh dari berbagai agama, bahasa, warna kulit, dan negara-bangsa yang semuanya berkepentingan dengan misteri nama Tuhan yang ke-100 ini.

Tuhan, dalam tradisi Islam, dikenal memiliki 99 nama, yang disebut asmaul husna. Nama-nama indah Tuhan, sesuai dengan sifat-Nya, didasarkan pada hadis yang diriwayatkan Ibu Majah, yang artinya: “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama. Siapa yang menghafalnya masuk surga. Bahwasanya Allah itu Maha Ganjil dan menyenangi kepada yang ganjil.”

Benarkah Tuhan hanya memiliki 99 nama? Tidak 100 sebagai lambang kesempurnaan?

Dari pertanyaan nyeleneh seperti itulah cerita dalam novel Amin Maalouf setebal 484 ini dibangun. Syahdan, masyarakat dunia dihantui keyakinan sekaligus takhayul bahwa akhir 1666 adalah waktu datangnya hari kiamat, yang juga disebut sebagai Tahun Dajjal. Yang bisa membuat keajaiban, dan menyelamatkan dunia dari kiamat, adalah siapa yang mampu mengurai misteri nama Tuhan yang ke-100 itu.

Masalahnya, tidak ada satu orang pun, satu tokoh agama mana pun, yang tahu nama Tuhan yang ke-100 itu. Tradisi Islam hanya punya 99 nama. Tradisi Injil punya 9 sebutan. Tradisi Yahudi malah melarang penyebutan nama-nama Tuhan. Tapi, banyak orang percaya sesungguhnya Tuhan punya nama ke-100. Satu nama yang lebih tinggi, yang mengatasi nama-nama Tuhan lainnya.

Bahkan, orang-orang yang berbeda-beda agama itu mencoba menafsirkannya dari Al-Quran Surat Al A’la ayat 1, Sabbikhisma rabbika al a’la, yang berarti “Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tinggi.”

One Reply to “Misteri Nama Tuhan yang Ke-100”

Tinggalkan Balasan