“Jangan melucu! Ini bukan guyonan, ini firasat, sebuah pertanda. Pertanda kesialan dan kamu akan celaka,” bentak makku.
“Tapi mak, bisa saja perekat spatulae di kaki cicak itu sedang habis, jadi jatuh,” aku mencoba berargumen.

“Jangan sok pinter, jangan menggurui makmu! Kamu akan celaka, tertimpa musibah! Dan cicak itu sebagai pertanda.”
“Mak, itu thiyarah namanya. Bisa mengurangi iman itu mak, syirik!”
“Kamu itu dibilangi ko ngeyel. Pinter dikit kebarat-baratan, alim dikit kearab-araban. La, Jawamu di mana, Mul?”
Takjub aku mendengar kata-kata Mak. Persis sama yang diungkapkan budayawan kelahiran Jombang. Dari mana Mak mendapat kata-kata itu. Misteri.
Mendengar sedikit kegaduhan, bapakku muncul dari kamar mandi, “Ealah kamu pulang to Mul? Ada apa ini kok ramai?”
Segera aku bangkit dan menyalami bapak. “Ini lo, Pak. Emak anggap aku kejatuahn cicak berarti kesialan akan menimpaku.”
Bapak tersenyum kecil, “Mitos itu, Mul! Takhayul! Apa gunanya kamu nyantri kalau percaya hal begituan.”
Emakku segera mendebat, “Bapak anak sama saja! Ya sudah kalau nggak percaya.” Semarahnya emak, beliau segera akan mereda tensinya. “Makan dulu sana, Mul! Itu ada pete dan ikan asin.”
Segera aku menuruti emak. Selesai makan, ketika mencuci piring, tanpa sadar tanganku yang masih bercampur sabun membuat pegangan tangan pada piring menjadi licin, dan prang! Piring pun jatuh dan pecah.
Emak segera mendekat, “Jangan bilang emak tidak memperingatkanmu!” Mitos satu, tanpa sadar hati kecilku menggumam.
Dua hari berlalu. Mitos cicak lepas perlahan dari pikiranku. Hujan yang deras tadi malam, membuat rumah kami bocor. Tak ayal, perabotan rumah basah. Air masuk menggenang sampai kamar.
“Mul! Sini bantu bapak,” bapak memanggilku dari luar.
Aku segera menghampiri, “Dibantu apa pak?”
“Itu bersihkan talang atap rumah, periksa juga apa ada genting yang bocor. Kalau ada turunkan dan ganti, biar tidak bocor lagi rumah kita.”
