“Inggih, pak!” cekatan aku naik dengan tangga. Membersihkan talang, memeriksa genting kalau ada yang pecah kemudian menggantinya. Terlalu asik mengganti genting bocor, tiba-tiba, prakk! gluduk! Kayu dudukan genting tak kuat menahan badanku. Aku jatuh terjerembab. Bapak segera berlari mendekatiku, “Mana yang sakit Mul?”
Aku meringis kesakitan. Kuperiksa tangan, kepala, muka, badan tidak terluka. Ketika aku mencoba berdiri, sontak aku menjerit. Rupanya kakiku terkilir. Bapak memapahku ke dalam rumah. Emak mengurut kakiku dengan balsam, diselingi omelannya.

“Inilah kalau tidak percaya pertanda. Kamu harus diruwat Mul atau kamu akan tertimpa musibah lagi. Sudahlah, manut mak-e.”
“Ini karena aku kurang hati-hati mak!” aku menolak halus.
Bapakku menambahkan, “Iya, mak! Mul kurang hati-hati. Husnuzan saja sama Allah.”
Emak sedikit emosi, “Aku ya paham agama pak ne! Tapi kita ini hidup di tanah Jawa. Bukan di Arab. Di situ tanah dipijak, di situ pula adat dijunjung!” Filosofis sekali emakku. Jangan heran, beliau dulu juara cerdas-cermat se-kecamatan, bahkan khatam Quran lebih awal dibanding teman seusianya.
“Anak nurun bapak, sama kelakuan! Tadinya aku pengen bikin kopi untuk kalian berdua, sekarang nggak jadi, buat sendiri saja!” Emak memberikan maklumat dan sanksi tegasnya kepada kami.
Mitos kedua, hatiku membisiki. Selang tiga hari berlalu, emak memanggilku, “Mul! Belikan gula dan minyak goreng ya. Pakai motor saja, biar cepat lagian kakimu belum sembuh.”
Aku tertatih mengiyakan permintaan emak. Di perjalanan pulang, sekelompok anak bermain sepak bola di pelataran. Bolanya tak sengaja mengarah padaku. Aku kaget tanpa bisa mengontrol laju sepeda motorku. Dan bruak! Aku menabrak pagar pembatas rumah. Tubuhku terpental jatuh di aspal. Badanku terluka memar agak parah. Beberapa orang sekitar menolong dan membawaku pulang ke rumah. Mitos ketiga..
Akhirnya, aku dibawa ke dokter terdekat. Emak hanya bisa menangis melihatku berbaring dengan perban dan infus di tangan. Sambil terisak emak mengadu pada bapak, “Kalian berdua memang keras kepala. Lihatlah sekarang! Hanya kurang dari sebulan, Mul telah mengalami pelbagai kesialan. Kalau saja kalian menurutiku, tentu hal ini tidak akan terjadi!”
Imanku mulai goyah. Rupanya getaran ini juga dirasakan bapakku. Dengan waskitanya bapak mengelusku sambil berkata, “Ana Abdullah, sesungguhnya aku hamba Allah. Segala sesuatu atas kehendak Allah, tiada kekuatan, tiada mendatangkan kebaikan, dan tiada menghilangkan keburukan kecuali Allah, Innallaha ‘ala kulli syaiin qadiir.” Kusambut dengan kemantapan iman kembali. Bapak dan aku saling menatap, sembari mengucap, Lahawla walaa quwwata illa billahil aliyil adzim.
Tanpa sepengetahuanku dan bapak, emak benar-benar nekat untuk meruwatku sendirian. Atas petunjuk tokoh tua di desa kami, emak mengadakan sesajen larung. Yaitu dengan menghanyutkan sesajen di sungai terdekat. Tiba di tepi sungai emak komat-kamit merapalkan mantra.
“Allahhuma, Genderuwa, olehne Dhanyang ngela dasar ing bumi, bumi tuwa buyute Dhanyang desa…..; Dhanyang desa…. ingsun ewangana muji; apa sun puji?Lupute lara, lupute panca bala, lupute bilahi kabeh; ingsun urip, warasna sebab berkate kiyai Dhanyang. Culingkam culingkem tunggak papak kala mingkem, kem kebingkem saking kersane Allah. Wong kepingin mlaku utowo mblayu, slamet kala yo slamet”.
Sambil menghanyutkan sesajen yang disiapkan, mak mencoba menggiringnya ke tengah sungai. Naas! emak terpeleset saat pijakannya pada batu yang licin dan berlumut. Mak tercebur ke dalam sungai. Kepalanya timbul tenggelam masuk ke sungai. Arus mulai menyeretnya. Di tengah keputusaaan, emak menggapai-gapai tangannya. Berusaha kepala untuk tetap di permukaan, sambil teriak minta tolong, “Tolong…tolooong… Ya Allah… tooolong… tolooong…,” beberapa kali teriakan emak berusaha agar mendapatkan pertolongan. Beruntung, pemancing yang mendengarnya berusaha menolong emak. Kampung desa heboh. Beramai-ramai menuju sungai melihat kejadian tersebut. Aku dan bapak yang mendengar kabar, berlari dengan ketakutan dan cemas. Menerobos tepian, menuju orang-orang yang telah ramai berkumpul di sungai untuk mencari emak.
Alhamdulillah, dengan izin Allah, emak berhasil ditolong. Tubuhnya lemas, napasnya tersengal-sengal, terbatuk sambil mengeluarkan air. Bapak memeluk erat tubuh emak yang masih lunglai. Air mataku deras mengalir. Aku belum siap untuk kehilangan emak. Ketika siuman, emak menatap kami berdua, lirih namun kami tetap bisa jelas mendengarnya, “Ya Allah, tidak ada kecelakaan kecuali kecelakaan yang Engkau tentukan, dan tidak ada kebaikan kecuali kebaikanMu, serta tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.”
Emak kembali ditebalkan imannya, setelah tipis karena mitos cicak. Kami bertiga berpelukan erat, tak henti mengucap syukur. Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan emak sekaligus dengan ketauhidannya.
