Skor Indeks Korupsi Indonesia
| Tahun | Skor |
| 2019 | 40 |
| 2020 | 37 |
| 2021 | 38 |
| 2022 | 34 |
| 2023 | 34 |
| 2024 | 37 |
| 2025 | 34 |
Anomie Indonesia

Kenapa Masyarakat Indonesia kian begitu bersemangat dan bergairah dalam melakukan korupsi? Ada baiknya kita meminjam teori Émile Durkheim, Anomie, yang kemudian dikembangkan oleh Robert K Merton. Berdasar teori Émile Durkheim ini, ketika terjadi guncangan dan perubahan yang begitu cepat di berbagai bidang, seperti disrupsi di era digital ini, contohnya, masyarakat akan tercerabut dari akarnya. Akarnya bisa berupa norma, tradisi, dan nilai-nilai lama. Di saat yang sama, norma, tradisi, dan nilai-nilai lama itu juga tertimbun oleh norma, tradisi, dan nilai-nilai baru yang belum sepenuhnya dipahami oleh masyarakat. Struktur sosial menjadi goyah. Masyarakat kehilangan arah. Kondisi itulah yang oleh Durkheim disebut anomie.
Di tengah anomie itu, masyarakat melihat gaya hidup hedonis begitu menghipnotis. Dan terhipnotis. Lalu harta dan takhta menjadi agama baru. Sesuatu yang dijadikan tujuan dan harus diperjuangkan. Semua harus direngkuh, tak hanya dengan berbagai, tapi juga dengan segala cara. Korupsi kemudian menjadi “tarekat” baru, jalan untuk menaiki tangga kekuasaan, jalan untuk menumpuk kekayaan. Dan hari ini, yang lebih dihargai, yang lebih disegani, yang dipuja-puji, adalah mereka yang bertakhta dan berharta. Tak peduli melalui jalan mana takhta mereka duduki. Masa bodoh kekayaan bumi Ibu Pertiwi dikangkangi.
Begitulah anomie masyarakat Indonesia jika dilihat dari kacamata teori Émile Durkheim. Bagaimana penghabisannya? Jelas, kondisi anomie seperti ini tak bisa dibiarkan semakin tak terkendali kalau tak ingin negara ini benar-benar collap. Jauh sebelum itu, ilmuwan Muslim abad ke-14 Ibn Khaldun juga sudah mengingatkan. Salah satu karyanya, Muqaddimah, merupakan hasil dari penelitian dan pengamatan selama melawat ke berbagai negara di abad pertengahan. Runtuhnya banyak negara, menurut pengamatannya, disebabkan masifnya gaya hidup hedonis di kalangan penguasa yang dibiayai dari pajak yang mengisap rakyat. Apa yang tertulis dalam Muqaddimah itu juga tampak di pelupuk mata kita, hari-hari ini.
Posisi NU
