Musibah yang Diproduksi di Meja Rapat

Maka, alam mengambil peran yang tidak pernah bisa diambil masyarakat: ia menjadi saksi, sekaligus pengungkap. Air bah yang menyeret balok kayu itu berbicara dengan cara yang tidak dapat disensor. Ia mengungkap lebih banyak daripada konferensi pers, dan lebih jujur daripada infografik kementerian. Banjir itu memaksa kita melihat apa yang selama ini disembunyikan: bahwa kerusakan bukan produk dari badai ekstrem, melainkan akumulasi dari izin-izin yang dikeluarkan dengan mudah.

Dalam konteks itu, menyebut peristiwa ini sebagai “bencana alam” sebenarnya adalah eufemisme. Ia memutihkan sesuatu yang jauh lebih gelap. Ini bukan musibah yang jatuh dari langit; ini adalah konsekuensi kebijakan yang bocor, korupsi yang berkepanjangan, dan keserakahan yang memiliki struktur. Yang hanyut bukan hanya pepohonan, tetapi juga integritas mereka yang mengaku menjaga kepentingan publik.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setiap kali seorang pejabat berkata, “Ini takdir,” kita perlu mempertanyakan: takdir siapa? Sebab sejauh yang terlihat, yang bekerja merusak hutan bukanlah hujan atau angin, tetapi manusia yang tanda tangannya tercantum di setiap lembar perizinan. Dan selama meja rapat masih menjadi tempat kelahiran kebijakan yang mengabaikan lingkungan, musibah akan terus datang—bukan sebagai kehendak alam, melainkan sebagai hasil keputusan yang manusia buat sendiri.

Tinggalkan Balasan