Ada saja fenomena keagamaan yang masih berkesempatan mengisi ruang sosial keberagamaan kita, bahkan yang satu ini sudah berskala global. Sejauh ini, kita masih belum bisa memastikan, apakah hal itu dipicu oleh permasalahan ekstern yang begitu kompleks sehingga tidak bisa dicerna dengan baik oleh manusia, atau daya intelektual kita yang sudah dalam taraf akut (melampaui) sehingga euforia dan fantasi keagamaan yang tidak menemukan ruang cenderung dipaksakan. Tapi apa pun alasannya, itu bagian dari kosmo zaman dan mozaik perubahan.
Belum usang kita menikmati suasana di mana declaration of human right yang dimanifestasikan dalam resolusi The International Day to Combat Islamophobia oleh Mejelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada bulan lalu, viral lagi narasi akhir zaman dan terminologi Bangsa Rum yang diterminkan kepada Bangsa Rusia (sekutu umat muslim dalam menghadapi akhir zaman) yang merupakan hasil bacaan terhadap suatu teks al-hadis dan fenomena konflik Rusia-Ukraina.

Penulis tidak akan memberikan suatu antitesa/justifikasi pembenaran terhadap narasi dan terminologi yang sedang marak di media sosial (meski banyak lembaga sudah menyatakan kontra narasi dengan dalih yang beragam). Tapi, sisi menarik yang perlu dihadirkan di sini adalah, bagaimana “relasi kuasa” wacana keagamaan yang berhasil diciptakan melalui ruang virtual, atau lebih kita kenal dengan media sosial.
