Negeri Para Pakar

“Saya tetap tidak percaya.”

Kalimat itu mungkin merupakan bentuk demokrasi yang paling sederhana sekaligus paling melelahkan. Kita memang hidup dalam masyarakat yang berhak mempunyai pendapat. Tetapi hak untuk berpendapat tidak otomatis memberikan hak untuk benar. Ini perbedaan kecil yang sering hilang. Kita boleh mempunyai opini tentang operasi jantung. Tetapi bukan berarti kita boleh mengambil pisau dan berkata kepada dokter, “Tenang, saya sudah menonton tutorialnya.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kita boleh mempunyai pendapat tentang hukum. Tetapi membaca satu unggahan media sosial tidak menjadikan seseorang ahli hukum. Kita boleh berbicara tentang agama. Tetapi satu potongan ceramah tidak selalu cukup untuk memahami kitab, tradisi, perbedaan pendapat, sejarah pemikiran, dan kerumitan persoalan yang telah dibicarakan para ulama selama berabad-abad.

Pengetahuan mempunyai kesabaran yang tidak dimiliki algoritma. Ia tumbuh perlahan. Ia meminta kita membaca sesuatu yang tidak kita sukai. Ia memaksa kita bertemu dengan argumen yang bertentangan. Ia mengajarkan bahwa mungkin kita keliru. Dan barangkali inilah bagian yang paling tidak populer dari ilmu pengetahuan: ilmu pengetahuan tidak selalu membuat kita merasa pintar. Kadang-kadang justru membuat kita sadar betapa banyak yang tidak kita ketahui.

Socrates, konon, terkenal karena menyadari ketidaktahuannya. Hari ini mungkin ia akan kalah jumlah pengikut dari seseorang yang membuat video, “5 Fakta yang Tidak Mau Kamu Ketahui!”

Begitulah paradoks negeri para pakar. Kita memiliki akses pengetahuan yang belum pernah sebesar ini dalam sejarah. Tetapi akses terhadap informasi tidak sama dengan kemampuan memahami informasi. Kita memiliki Google, jurnal, perpustakaan digital, universitas, arsip, dan berbagai sumber pengetahuan. Namun pada saat yang sama, kita juga mempunyai kemampuan luar biasa untuk percaya kepada sesuatu hanya karena seseorang mengatakannya dengan suara yang sangat yakin.

Barangkali persoalan terbesar zaman ini bukan kekurangan informasi. Kita justru kebanjiran informasi. Yang kurang adalah kerendahan hati. Sebab menjadi pintar bukan hanya mengetahui banyak hal. Menjadi pintar juga berarti mengetahui batas pengetahuan sendiri.

Maka mungkin sudah waktunya kita menambahkan satu gelar baru dalam masyarakat: Ahli Menunggu Sebelum Berkomentar. Masa studinya panjang. Syarat kelulusannya sederhana: mampu berkata, “Saya belum tahu.” Dan tesis akhirnya hanya satu kalimat: “Saya akan mencari tahu terlebih dahulu.”

Tinggalkan Balasan