NENEK MOYANG KITA

NENEK MOYANG 

Jika Ibu Sud punya nenek moyang seorang pelaut
Yang gemar mengarung luas samudra
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Maka, kami punya nenek moyang seorang perusak
Yang gemar menambang luas daratan
Membelah gunung tiada takut
Menebang pohon sudah biasa

Sungguh nestapa, ini bukan nyayian
Ibu, inilah luka yang tergores di tanah ini
Sumatera, Kalimantan, hingga Papua
Daun berguguran, batang hanyut, akar terungkai
Sudah jutaan pohon dikorbankan
Untuk sebutir emas dan debu batubara
Hingga angin pun kehilangan suaranya

Namun, Ibu
Di antara jerami-jerami yang diam
Masih tersisa gabah yang berisi
Berjuang demi bangsa dan negeri
Agar suatu hari nanti
Kita bisa bernapas kembali
Dalam teduh warisan yang tak ternilai

 

KITA HILANG DALAM KEMAJUAN

Ketika orang kehilangan, ia akan sadar bahwa ia kehilangan.
Itulah yang seharusnya terjadi.
Namun bila sesuatu telah lama pergi,
pada akhirnya kita lupa apa yang pernah hilang.

Kita hilang dalam kemajuan
selalu menatap ke barat,
berusaha menjadi serupa,
tanpa pernah menengok ke bawah kaki sendiri.

Kita hilang dalam kemajuan
mengganti minyak dengan listrik,
seakan itu jawaban,
padahal keduanya berasal dari galian yang sama.

Kita hilang dalam kemajuan
membiarkan sawit tegak sendirian,
tanpa tahu bahwa di baliknya,
gajah telah rebah, hutan tinggal nama.

Kini langit menutup tiranya.
Seketika hujan turun,penuh kepuasan,
hingga sungai tak kuasa menahannya.
Dan air pun menyapu
segala kebohongan yang berdiri di depannya.

 

HANYA CERITA DAN ENSIKLOPEDIA

Dulu, ketika masih duduk di bangku sekolah
Dalam buku-buku ensiklopedia
Aku selalu bangga dengan bangsa ini
Sabang sampai Merauke merupakan mahakarya dari sang pencipta
Keindahan yang menakjubkan
Kekayaan melimpah di mana-mana
Setiap hewan, setiap tumbuhan memiliki goresan yang khas pada dirinya

Sebuah kunggulan yang seharusnya kita rawat
Mereka adalah kebanggaan yang tak ternilai
Namun, itu juga membawa malapetaka bagi mereka
Menjadi barang dagang yang selalu di buru

Ya di sini, uang menjadi barang yang jahat
Dia yang membelenggu pikiran
Kepadanya manusia menjadi candu
Terlalu bernafsu untuk mendapatkannya
Hingga segala cara pun berani di lakukan
Bahkan, nyawa mereka pun tak berarti di hadapannya

Lantas, di mana kita? ketika mereka membutuhkan
Sekolah? Demi mengejar selembar kertas yang berharga
Tapi lupa belajar mencintai alam
Bekerja? Mencari nafkah untuk hidup
Hingga tidak ada waktu untuk peduli
Atau yang lain?

Pada akhirnya kita pun terlena dengan apa yang namanya uang
Terlena dalam kenyamanan, dalam kesibukan
Dan, jika ini terus di biarkan
Bukan tidak mungkin
Yang tersisa dari mereka hanya cerita dan ensiklopedia

Ilustrasi: lukisan Affandi.

Tinggalkan Balasan