Tafsir dari Syaikh Nawawi tentu lebih masuk akal daripada logika nihilisme yang menyebut bahwa alam ini berawal dari ketiadaan. Bagaimana bisa yang ada diciptakan oleh ketiadaan (creatio ex nihilo)? Seperti sebuah pena, ia ada karena ada penciptanya, yaitu manusia. Lalu jika mengikuti doktrin itu, berarti pena mengada dengan sendirinya. Maka jelas, logika ini cacat dengan sendirinya.
Meski penjelasan Gus Baha cukup singkat, namun ini menjadi sebentuk gambaran buat para hadirin bagaimana cara meneladani khazanah tafsir Indonesia. Setelah itu, saat giliran Prof Quraish Shihab menyampaikan materi, beliau memulai dengan khazanah studi Ulumul Qur’an dan tafsir dunia lalu lanjut kembali lagi ke Nusantara.

Beliau mengatakan bahwa Syaikh Nawawi adalah ulama yang terkenal di dunia internasional. Ia menjadi satu-satunya ulama lokal yang mendapat gelar Sayyidu ulama Hijaz atau gurunya orang Arab. Pretasi semacam ini sangat penting untuk diapresiasi dan diteladani oleh generasi ke generasi. Pencapaian Syaikh Nawawi sebagai ulama cum-mufasir tidak menjadi sebuah legenda yang hanya ada di cerita-cerita, ia harus nyata hadir.
Tafsir Indonesia Butuh Pewaris
Salah satu yang berkesan bagi saya dan tentunya saya sangat berharap akan hal itu adalah ketika Prof Quraish menyebut Gus Baha sebagai pewaris Syaikh Nawawi, “Syekh Nawawi Al-Bantani ini orang sangat istimewa. Jangan pernah menduga bahwa yang superior dalam bidang agama itu orang Arab. Beliau gurunya orang Arab sampai dikenal Sayyidu Ulama’ al-hijaz. beliau diminta mengajar di Al-Azhar. Orang dari mana? Dari serang. Ini pewarisnya (Gus Baha)” disertai gempita tepuk tangan hadirin.
Terakhir, bagi Prof Quraish, Indonesia punya potensi-potensi itu. beliau pun menyebut banyaknya orang-orang luar yang terkagum-kagum dengan toleransi yang ada di negeri tercinta ini. Padahal Indonesia bukan negara agama, bukan pula negara sekuler, tapi mampu untuk menjaga perdamaian dan kerukunan antar enam agama yang ada.
