Setiba di Friedrichstrasse
Ia pergi mencari sisa-sisa percakapan
Yang timbul dari gurun petualangan
Ia percaya bahwa sesuatu yang diciptakan akan mati
Pecah berkeping-keping
Di lain waktu, ia beranjak lagi
Dibawanya sebuah kisah tentang percakapan-percakapan
Kubur penyesalan yang kemarin habis ditelaah tangis
Atau kesedihan yang piawai dimakan epitaf kisah

Dan seterusnya, dan seterusnya
Sampai akhirnya ia sampai ke legam masa lalu
Dengan napas yang ringkih
Dengan nada yang letih
Madura, 2021.
HIMNE GERHANA
Pada zaman yang keberapa himne ini muncul sebagai perdebatan
Pada kisah yang menandai percakapan ini pecah di ujung bibir
Atau di altar cerita ini, ada yang menjelma jadi autodidak
Tafsir menafsir bahwa jika gerhana bulan tiba
Benda-benda harus dibangunkan
Sebagian orang mengatakan lagi
Bahwa kabar datang dari nenek moyang kita
Bahwa setiap gerhana, tumbuh-tumbuhan perlu disentuhi gula
Agar buahnya lengket dengan kemanis-manisan
Agar tubuhnya menyimpan buah kerinduan
Yang masih lelap barangkali
Ia musti dibangunkan meritualkan himne ini
Sebagai upacara arwah leluhur
Madura, 2021.
