Pakdhe

Ketika kupandangi wajahnya yang legam, kusut, dan rambut beruban yang tak begitu terawat. Seketika terbayang hari-harinya yang setiap pagi harus mengumpulkan rumput untuk kambing-kambing peliharaannya, yang itu bukan miliknya, hanya dipasrahi untuk merawat dan ketika beranak akan dibagi dengan pemilik aslinya.

Padahal aku tahu sendiri. Dari cerita masyarakat yang biasa ngerumpi setelah tahlilan, musim panas kali ini cukup lama dari hitungan umumnya. Kebanyakan dari mereka yang mempunyai kambing atau sapi memilih jalur alternatif untuk membeli rumput di desa sebelah yang itu adalah rumput hasil fermentasi, bukan rumput hijau asli yang masih segar. Sementara aku sangat yakin Pakdheku ini tidak mungkin sanggup untuk mengikuti cara merawat kambingnya dengan membeli rumput fermentasi itu.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku juga pernah mendengar bahwa Pakdheku ini, di samping menerima jasa perawatan hewan ternak, juga biasa diajak untuk menjadi tenaga pekerja di saat musim panen tiba, tapi bukankah tahun ini hama tikus sedang gawat-gawatnya. Kabar ini pun kudengar dari hasil ngerumpi setelah tahlilan yang diadakan seminggu sekali itu. Bisa kau bayangkan sendiri, betapa gentingnya hama tikus ini sampai-sampai dalam kurun waktu dua bulan lebih tak ada tema lain yang lebih menarik untuk dibahas, entah di sela-sela kenduren atau di meja-meja warung kopi, selain tentang hama tikus ini.

Keadaan yang semacam ini jelas berpengaruh besar pada Pakdheku ini, terlebih untuk pekerjaan serabutannya.

Tapi anehnya, sekian kali aku berpapasan atau bertemu dengannya, tak pernah sekalipun kulihat ia tampak murung atau gelisah. Selalu Pakdhe tampil dengan wajah yang datar dan cenderung tanpa ekspresi, kecuali kepada yang ia kenali, seperti aku, senyumnya akan segera terkembang. Sebagai remaja tanggung sepertiku ini, contoh-contoh manusia seumpama Pakdhe selalu menggelitik di benakku. Sekilas hidupnya seperti terkurung di bawah standar sederhana, tapi ketika kau ajak ia berbicara atau bercerita perihal kehidupannya, dengan hanya mengamati dan mendengarkan suara sahajanya, ia malah seperti sedang memberimu energi, betapa dalam hidup ini masih ada berjuta hal yang pantas untuk disyukuri dan diperjuangkan sungguh-sungguh. Tak peduli betapa berlikunya jalan takdir yang sedang kau hadapi, tetaplah jaga harapan-harapan baik di hari depan.

Rasa syukur dan pikiran yang positif dari orang-orang yang kujumpai selalu mampu menjeratku dalam perasaan nyaman dan bahagia. Hidup jadi terasa lebih berwarna dan tubuh menjadi segar dan ringan untuk melakukan segala aktivitas, bahkan kadang malah mendorong untuk segera melakukan berbagai macam hal baik dan cita-cita yang luhur tapi tetap bersahaja. Apakah Pakdhe tahu apa yang sedang kupikirkan? Entahlah, semoga kebaikan selalu menyertaiku dan dia juga kita semua, batinku.

“Bapak-Ibumu pergi kemana, Ziz?” tanya Pakdhe memecah suasana diam yang berlangsung cukup lama. Hanya suara televisi saja yang sedari tadi kami dengarkan.

Tinggalkan Balasan