Pernah suatu ketika, saudara perempuannya ingin membawa ke beberapa pengobatan alternatif yang secara biaya lebih murah daripada Rumah Sakit Swasta. Akan tetapi usaha itu malah semakin membuat Lek Ham—pangilan akrabnya—semakin depresi dan uring-uringan. Seusai dibawa oleh saudara perempuannya itu, Lek Ham makin sering murung dan susah untuk disuruh makan. Padahal sebelumnya Lek Ham biasa jalan-jalan keliling desa, menonton bocah-bocah yang asyik bermain neker atau benti’an sampai senja memerah dan terdengar qiroah dari corong-corong masjid tanda akan tiba waktu maghrib, baru setelah itu ia dengan sendirinya pulang. Begitulah sehari-hari Lek Ham menghabiskan sisa-sisa usianya, sebelum kemudian ia menghilang entah dibawa ke mana.
Sebenarnya aku ingin sekali menayakan kabar Lek Ham. Tapi kuurungkan, mungkin ini bukan saat yang tepat.

“Kau masih mondok di Gresik, Ziz?” Ia bertanya.
“Iya, Pakdhe, pengestunipun.”
Begitulah. Ia sebenarnya masih tergolong keluarga jauh. Aku masih tercatat sebagai kemenakannya. Hanya saja tempat tinggalnya berada di desa sebelah. Ia seringkali kunjung kemari berziarah, sebab makam orang tuanya berada di desaku.
Selagi ia duduk nyaman di kursi ruang tamu. Aku masuk ke dalam rumah untuk mencari air mineral, sekaligus mencarikan kudapan yang mungkin masih ada di ranji, tempat berkumpulnya jajanan dari berkat-berkat kenduren yang tersimpan.
Setibanya di ruang tamu, kupersilahkan ia untuk minum dan mencicipi kudapan yang kubawa. Selebihnya aku lebih banyak diam. Atau lebih tepatnya merenung, berbicara dengan diriku sendiri tentang Pakdheku ini.
