Pameran “60 Tahun Majalah Horison”

Setelah itu, mantan redaktur Horison Bambang Bujono memberikan testimoni. Ia mengisahkan pengalamannya selama bekerja di Majalah Horison. Menurutnya, banyak Sastrawan besar yang dilahirkan oleh Horison, majalah yang menjadi trendsetter sastra Indonesia di zamannya.

Jamal D Rahman, yang selama 25 tahun bekerja di Horison dan pernah menjadi pemimpin redaksinya, menyampaikan pidato kunci dengan judul “Bahasa Indonesia Boleh Profan, Namun Tak Boleh Kotor”.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kalau Mas Bambang tadi bicara tentang yang terbit, saya akan bicara tentang yang tenggelam. Kebudayaan kita cenderung mengangkat yang terbit, melupakan yang tak terbit atau tenggelam. Padahal, dari HB Jassin kita belajar bahwa yang tidak terbit, yang tidak viral, juga penting. Bahkan yang tenggelam lebih bisa penting dari yang terbit,” demikian Kang Jamal, sapaan akrabnya, mengawali pidato kuncinya.

Menurutnya, pameran dengan tema “Yang Terbit, Yang Tenggelam” ini merupakan semacam ikrar atau pernyataan bahwa sebuah majalah sastra tidak pernah hanya tentang apa yang terbit di atas kertas. Ia tentang jaringan manusia, tentang perdebatan yang tidak kunjung usai, tentang kegagalan yang diakui, dan tentang keteguhan untuk terus terbit meski sering hampir karam.

Tinggalkan Balasan