Dalam konteks ini, Kang Jamal menegaskan bahwa apa yang dilakukan Horison, juga HB Jassin, adalah memperjuangkan martabat bahasa Indonesia. Dan saat bahasa Indonesia telah menempati yang bermartabat, baik sebagai bahasa sastra maupun intelektual.
Menurutnya, inilah salah satu spirit paling mendasar majalah sastra Horison dan HB Jassin, dua institusi kebudayaan kita yang kini telah menjadi sejarah itu. Tapi sebagai sejarah, Horison dan HB Jassin bukanlah proyek kebudayaan yang selesai. Ia tetap hidup, diwariskan, dan —dalam satu dan lain cara— diwarisi antargenerasi secara produktif dan kreatif.

“Pameran 60 Tahun Majalah Horison yang bertempat di PDS HB Jassin ini adalah bukti bahwa spirit itu tetap menyala. Tidak redup. Tidak padam. Ia hanya berganti tangan, berganti napas, berganti cara menyala,” ujarnya.
Kang Jamal kemudian mengingatkan agar bahasa Indonesia harus selalu dijaga, dirawat, disucikan dalam penggunaannya, meskipun ia tetap berada di ranah profan —di mimbar politik, di medsos, di algoritma, di dunia digital.
