Tradisi pesantren tidak bisa dipisahkan dari budaya membaca. Pesantren yang dikenal sebagai institusi keislaman tradisional yang mendidik manusia menjadi muslim sejati, memang seharusnya tetap merawat budaya membaca. Sejarah pun mencatat, wahyu pertama yang diturunkan pada Nabi Muhammad adalah perintah iqra’! (Bacalah). Maka sepantasnya bagi seorang muslim sejati, budaya membaca harus tetap dilestarikan. Jikalau ada tempat di mana buku atau kitab diperlakukan dengan takzim, ya pesantrenlah tempat itu.
Secara historis pun awal munculnya kata santri itu sendiri adalah berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu sastri yang artinya “melek huruf” atau “bisa membaca”. Tentu, dalam konteks ini santri identik sebagai orang yang mampu membaca kitab klasik ataupun turats yang berisi teks-teks ajaran Islam.

Namun dunia terus berkembang. Pemaknaan dari kata “membaca” yang asalnya hanya difokuskan pada tekstualis-ritualistik harus dikembangkan lagi menjadi lebih luas. Literatur umum di luar teks-teks tradisional juga harus menjadi santapan sehari-hari.
Mengingat pentingnya membaca dengan pemaknaan luas tersebut maka, Pondok Pesantren Annuqayah Latee, Sumenep, khususnya kompleks Rayon KH Ahmad Basyir AS, membuat program yang diberi nama “Wajib Baca”. Wajib baca dalam berbagai genre buku, mulai dari tema keislaman seperti kepesantrenan, ke-Annuqayah-an, Nahdlatul Ulama (NU), sejarah Islam, Nabi Muhammad, fikih, tasawuf, dan rauhid.
Terdapat juga literatur umum, seperti sastra dunia, sejarah dunia, sastra Indonesia, umum populer, serta Madura.
Jadi, santri di samping mempelajari dan mendalami ilmu keislaman melalui kitab turats, juga disiapkan agar tidak gugup dalam menghadapi realitas dunia saat ini. Dengan mengetahui berbagai ilmu yang ada saat ini, santri tidak akan terlihat kolot di mata orang luar, sebagaimana stereotip yang telah ditanamkan orang-orang sejak dulu.
Program wajib baca ini meliputi kegiatan “tapa baca”. Dalam kegiatan tapa baca ini, para santri setiap malam Kamis diwajibkan dalam waktu tertentu untuk membaca bersama. Ini bertujuan membangun kultur membaca untuk melestarikan budaya membaca agar tidak berhenti di tengah jalan. Dengan adanya kultur tapa baca tadi, diharapkan santri terbiasa melakukan kegiatan membaca secara istikamah dan teratur.
