PANDUAN MENGIRIM TULISAN DI DUNIASANTRI.CO

Jangankan tanpa saringan. Sudah disaring sedemikian rupa pun masih juga kebobolan. Belum lama ini, kami terpaksa menonaktifkan akun salah satu kontributor karena diketahui beberapa artikel yang disubmit dan sebagian telah kita rilis ternyata hasil copypaste dari media lain. Ini termasuk pengkhianatan terhadap jurnalisme, dan kita menutup diri untuk itu.

Kembali ke pertanyaan di awal: Ya, lalu apa istimewanya situs web kita, duniasantri.co, ini?

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ketika duniasantri.co masih berupa konsep dan belum resmi rilis, seorang wartawan senior memberi komentar: bukankah citizen journalism itu, meskipun toh menggunakan nama santri, tetap rawan disusupi penyebaran hoax atau berita palsu, ujaran kebencian, dan akurasi kontennya  rendah? Kami menjawab: tidak!

Kenapa? Meskipun ini berkonsep citizen journalism, jurnalisme warga (santri), kami akan tetap menggunakan prosedur dan standar kerja jurnalistik. Karena itulah kami menolak permintaan santri yang bermukin di luar negeri itu, dan menonaktifkan akun kontributor yang melakukan penjiplakan artikel.

Nah, itulah yang, menurut kami, membuat duniasantri.co ini istimewa. Ia satu-satunya media berkonsep citizen journalism yang dikhususkan bagi komunitas santri atau masyarakat pesantren yang tetap menggunakan prosedur dan standar kerja jurnalistik, dengan standar kualitas yang dipancang tinggi-tinggi.

Dan, sesungguhnya, kami ini sekadar mengawali dan memfasilitasi. Pada nantinya, ketika jejaring duniasantri ini sudah muncul di mana-mana, tersebar hingga ke pelosok-pelosok Nusantara, atau bahkan ada di negara-negara lain, tugas kita semualah untuk tetap menjaganya, dan terus membesarkan dan mengembangkannya. Entah bagaimana caranya.

Mimpi kita, suatu saat akan muncul kebanggaan tersendiri saat tulisan kita dimuat, karena duniasantri.co telah berkembang menjadi “media otoritatif” dalam menyuarakan keislaman, kepesantrenan, kebangsaan… dengan standar kualitas yang teruji dan terpercaya.

Jadi, seiring berjalannya waktu, teman-teman santri jangan pernah berhenti meningkatkan kualitas kepenulisan. Semakin lama, artikel yang disubmit dan dimuat di duniasantri.co harus makin baik, makin berkualitas, makin beragam. Itulah yang akan membuat kita istimewa…

POLITIK REDAKSIONAL DUNIASANTRI

Sahabat-sahabat warga duniasantri, ayo berdiskusi lagi, kali ini tentang politik redaksional duniasantri.co —semacam kebijakan redaksional pada media massa.

Sedari mula, web kita memang bukan dirancang dan diposisikan sebagai media Islam atau islami, karena itu namanya bukan duniaislam.co atau duniaislami.co.  Melainkan, duniasantri.co. Kenapa? Spiritnya adalah bagaimana santri memandang dunia, dunia yang sangat begitu luas, dan bagaimana dunia yang beragam itu memandang dunia santri sebagai sebuah subkultur —meminjam istilah Gus Dur.

Bagaimana santri memandang dunia, dan bagaimana dunia memang santri, itu kemudian dituangkan ke dalam bentuk tulisan yang difasilitasi oleh duniasantri.co. Karena itulah, sejak awal jejaring duniasantri berusaha mendorong lahirnya penulis-penulis baru dari kalangan santri melalui Gerakan Santri Menulis, dengan sesering mungkin mengadakan diklat, workshop, dan diskusi kepenulisan. Apakah yang menulis harus santri? Tidak. Yang bukan santri, dan bahkan yang memiliki kepercayaan yang berbeda dengan santri, bisa menuliskan pandangannya melalui duniasantri.co. Karena, faktanya, banyak juga nonmuslim yang memiliki kepedulian dan bergiat di dunia pesantren.

Begitulah tradisi dan jiwa santri: beragam, terbuka menerima siapa saja.

Lalu, apa impact-nya dengan rancang bangun politik redaksional seperti itu? Kira-kira begini: saat ini sangat banyak artikel yang di-pending pemuatannya. Jumlahnya mungkin sudah ratusan. Kenapa? Sebagian besar karena isi dan cara penulisannya memang tidak atau belum sesuai dengan politik redaksionalnya.

Andai semua tulisan yang di-pending itu kita muat, maka beginilah kemungkinannya: Pertama, web kita akan berubah menjadi kumpulan naskah khutbah jumat. Di dalamnya rata-rata berisi pesan untuk melakukan ini-itu dan menjauhi ini-itu lengkap dengan ayat dan hadits sebagai dalilnya.

Kedua, web kita akan berubah menjadi kumpulan naskah fikih Islam. Yang kategori ini, di dalamnya rata-rata berisi pesan bahwa yang ini halal dan yang itu haram, misal kawin beda agama itu haram dan sebagainya, juga lengkap dengan ayat dan hadits sebagai dalilnya.

Ketiga, web kita akan berubah menjadi kumpulan naskah tuntunan beribadah. Yang kategori ini, di dalamnya rata-rata berisi pesan tentang cara-cara beribadah, seperti bagaimana tata cara wudlu atau salat yang benar, tentu disertai dengan dalil-dalil rujukannya.

Keempat, web kita akan berubah menjadi kumpulan naskah kitab mujarobat. Yang kategori ini, di dalamnya rata-rata berisi pesan tentang keutaman atau khasiat jika kita melakukan amalan tertentu. Misalnya, kalau kita ingin lulus ujian, tinggal baca surat al-Waqiah selama tiga puluh hari dan semacanya itu. Tentu juga disertakan dalil-dalilnya.

Kelima, web kita akan berubah menjadi kumpulan naskah dari buku motivator atau buku pintar. Yang masuk kategori ini kebanyakan memang berupa berbagai “motivasi” dan tips-tips yang berbau sloganistik dan artifisial.

Tak ada yang salah dengan itu semua, tapi standing position duniasantri.co memang bukan di situ. Ini perlu disampaikan agar sahabat-sahabat warga duniasantri tak merasa di-PHP. Naskah yang masuk dalam lima kategori itu bisa dipastikan memang tidak diloloskan untuk dimuat karena alasan standing position politik redaksional tersebut.

Lalu yang seperti apa? Terutama bagi sahabat-sabahat yang baru bergabung, ada baiknya menyempatkan diri untuk membaca-baca seluruh unggahan duniasantri.co di semua rubriknya, mulai dari Opini, Cerpen, Puisi, Pondok, Sosok, Teras, Pustaka, Bintang, Santri Way, dan Humor. Benang merahnya: semua tentang bertukar gagasan, ide, pemikiran, informasi, dan cerita —tentu bersumber dari bagaimana santri memang dunia dan dunia memang santri.

Mungkin, bagi yang belum terbiasa menulis, ini akan terasa sulit, lebih-lebih untuk tulisan opini. Tapi ada cara mengawalinya dengan mudah. Misalnya, dimulai dengan membuat tulisan resensi buku tentang buku-buku yang sedang kita baca. Atau menuliskan profil pondok pesantren kita atau pengalaman kita mondok, atau memprofilkan hidup dan perjuangan para kiai kita —daripada kita menulis, misalnya, biografi Imam Ibnu Hambal yang seluruh dunia sudah mengetahuinya. Atau mencoba-coba menulis cerpen atau puisi, yang kebetulan sudah mulai jarang disubmit di web kita.

Nah, mumpung besok kita mengadakan workshop penulisan cerpen/novel, ada baiknya sahabat-sahabat warga duniasantri bisa meluangkan waktu mengikutinya, agar kita memiliki pengetahuan dan kemampuan menulis yang beragam.

Tentang politik redaksional ini, kita bisa terus menduskusikannya…

SEKALI LAGI TENTANG KEJUJURAN

Sahabat-sahabat santri, mungkin di antara kita ada yang belum sempat membaca tulisan dalam link ini: https://www.duniasantri.co/jurnalisme-itu-soal-kejujuran/. Bagi yang belum, sempatkanlah membacanya untuk kebaikan kita bersama.

Kami merasa perlu mengingatkan kembali hal ini karena semakin banyak tulisan atau artikel yang di-submit, ternyata masih banyak kami temui hal-hal yang seperti itu. Bukan sekadar soal kelayakannya sebuah tulisan atau artikel bisa dimuat, melainkan juga melibatkan soal orisinalitas.

Sejak peristiwa yang tergambar dalam link tersebut, kami memang memiliki pekerjaan tambahan. Sebelum melakukan editing atau proses penyuntingan, terhadap setiap tulisan akan dilakukan tracking —karena kami tidak ingin kecolongan lagi dengan muat tulisan atau artikel yang ternyata hasil copypaste atau penjiplakan. Dan tentu urusan tracking ini menguras energi yang sesungguhnya tidak perlu.

Hasil tracking menyimpulkan bahwa masih banyak tulisan atau artikel yang di-submit ternyata memiliki kemiripan atau kesamaan dengan yang pernah dimuat oleh media-media lain. Kami tidak tahu apakah itu disengaja atau tidak. Mungkin tidak ada maksud untuk menjiplak dari penulisnya, atau tidak tahu bahwa itu penjiplakan. Sebab, kami tahu bahwa salah satu tahapan belajar menulis adalah meniru. Tapi menurut kamus, meniru dan menjiplak itu beda arti.

Jadi, sekali lagi mohon maaf, begitu hasil tracking menunjukkan bahwa satu tulisan atau artikel yang di-submit memiliki kemiripan atau kesamaan dengan tulisan atau artikel yang pernah dimuat oleh media lain yang menjurus pada penjiplakan, kami tidak bisa meloloskannya ke tahap penyuntingan.

Jadi, sekali lagi, ini tentang kejujuran dalam jurnalisme yang harus kita junjung tinggi jika ingin terus berkarya dalam dunia kepenulisan.

SEKALI LAGI TENTANG PLAGIASI

Sahabat-sahabat santri dan mahasantri, mungkin ada yang belum sempat mengikuti catatan kita terdahulu atau yang bergabung dengan Gerakan Santri Menulis (GSM) duniasantri.co, kita perlu sekali bicara tentang plagiasi.

Kenapa? Ternyata, dari banyak artikel yang di-submit, masih banyak saja yang merupakan plagiasi. Tentu ini tidak baik dan tidak sehat bagi keberlanjutan GSM. Karena itu, dalam menyunting setiap artikel, kami menetapkan prosedur sangat ketat.

Sebelum disunting, setiap artikel akan dibaca lebih dari sekali, kemudian dilakukan tracking, penelurusan atau pelacakan atau audit untuk memastikan setiap artikel bukan hasil plagiasi. Jika lolos tracking, barulah dilakukan penyuntingan. Nah, prosedur tracking ini cukup menguras waktu dan energi. Tapi, itu tetap harus kita lakukan demi menjaga marwah kita bersama.

Kami tak bisa bayangkan jika kemudian banyak orang bilang, “Ah, artikel di duniasantri.co ternyata banyak yang plagiasi….” Ya, lebih baik sedikit menerbitkan artikel tapi benar-benar merupakan karya sendiri, daripada banyak tapi plagiasi.

Sebagai contoh, misalnya, ada beberapa artikel yang belum lama di-submit, dengan topik cukup menarik dan penulisan yang baik. Tapi, setelah di-tracking, tulisan yang sama persis, atau setidaknya lebih dari 50 persennya, pernah dimuat Repulika, Kompasiana, atau beberapa situs web lainnya. Tentu ini menyedihkan.

Karena itu, bagi sahabat-sahabat santri dan mahasantri, sekiranya memang belum siap untuk menulis sendiri, lebih baik bersiap diri dulu, tak perlu memaksanakan diri untuk lekas-lekas submit artikel. Masih ada waktu bagi kita untuk saling belajar.

Ini contohnya: misalnya kita ingin menulis tentang profil Syekh Nawawi —kebetulan memang ada yang submit artikel tentang Syekh Nawawi, tapi setelah di-tracking ternyata sama persis dengan yang pernah dimuat di Republika.

Untuk menulis profil Syekh Nawawi itu kita tak perlu plagiasi. Yang perlu kita lakukan adalah riset, riset, dan riset dengan membaca sebanyak mungkin referensi tentang Syekh Nawawi. Barulah setelah itu kita akan menemukan sesuatu yang baru, gagasan baru, atau sudut pandang yang baru tentang Syekh Nawawi yang memang perlu kita tulis sendiri. Dan menulislah kita…

Kami khawatir, suatu saat kami lengah, dan kecolongan memuat artikel yang ternyata hasil plagiasi. Itu akan akan mencoreng apa yang telah kita lakukan selama ini.

Untuk itu, kepada sahabat-sahabat santri dan mahasantri, mari saling menjaga, agar kita tetap berada di “jalan yang lurus…”

SEKALI LAGI TENTANG ETIK DAN ETIKA KEPENULISAN

Kepada sahabat-sahabat penulis duniasantri, sudah lama rasanya kita belum berbagi lagi hal ihwal kepenulisan di duniasantri.co. Hal ihwal berupa catatan-catatan dari tim redaksi kali ini semoga ada manfaatnya buat kita.

(1)

Jumlah penulis semakin banyak. Per hari ini, Senin 13 Juni 2022 pukul 09.000, sudah mencapai 1.023 orang. Tak hanya datang dari lingkungan pondok pesantren, tapi juga berlatar belakang pendidikan umum, bahkan dari berbagai universitas ternama.

Kita patut bangga akan hal ini. Tentu, jumlah tulisan yang submit ke duniasantri akan semakin banyak dan beragam. Dan diharapkan makin berkualitas. Tapi tentu juga ada “konsekuensi” tertentu. Misalnya, persaingan untuk bisa dimuat semakin ketat. Juga, antreannya untuk dimuat semakin panjang. Dengan demikian, (seharusnya) apa yang kita sajikan di duniasantri.co juga semakin berkualitas.

Poin ini membuat tim redaksi mengubah “masa tunggu” yang sebelumnya maksimal sebulan menjadi dua bulan untuk pemuatan tulisan sejak tanggal submit.

(2)

Tim redaksi merasa harus kembali mengingatkan soal etik dan etika di dunia kepenulisan, terutama yang berkaitan dengan pengiriman satu tulisan ke beberapa media sekaligus dan penjiplakan.

Sebab, belakangan beberapa kali muncul kasus satu tulisan dikirim ke beberapa media sekaligus, sehingga terjadi duplikasi pemuatan atas satu tulisan yang sama di media yang berbeda dalam waktu bersamaan atau berdekatan. Juga, ada beberapa kasus tulisan yang disubmit tidak asli alias jiplakan dengan tingkatan yang berbeda-beda.

Poin ini membuat tim redaksi harus mengambil tindakan tegas, memberikan “notice” terhadap pengiriman tulisan dari penulis-penulis yang telah menyalahi etik dan etika di dunia kepenulisan.

(3)

Banyak sahabat-sahabat yang bertanya-tanya: kenapa aturan-aturan penulisan di duniasantri tidak secara resmi diumumkan di webnya, baik yang menyangkut soal-soal teknis maupun etik dan etika kepenulisannya? Bahkan, notice terhadap pelanggaran tidak diberi peringatan terlebih dulu.

Pertama, ketika kita sudah ber-nawaitu menjadi penulis atau aktif di dunia kepenulisan, harus dianggap kita sudah memahami bagaimana etik dan etikanya, memahami rambu-rambunya. Ibarat kita akan menjadi sopir bus, segala syarat dan persyaratnya harus dipenuhi, harus dikuasai. Jangan hanya karena ingin mengejar setoran, rambu-rambu diterabas.

Bukankah tujuan awal kita menulis di duniasantri untuk menyebar dan berbagi kebaikan, dan yang lain-lain kita anggap berkahnya?

Kedua, kita adalah komunitas santri, kaum santri, di mana hal ihwal bentuk-bentuk relasi informal dan relasi kultural di antara kita tak bisa dihilangkan (begitu saja), seprofesional apa pun kita mengelola media ini, secanggih apa pun media yang kita gunakan. Maka, kita harus saling membaca, saling memahami, dan saling menjaga agar relasi kita tetap terbangun dengan kokoh demi menjaga kualitas seperti tujuan awalnya.

TANGGUNG JAWAB JURNALISTIK, TANGGUNG JAWAB (KE) PUBLIK

Teman-teman warga duniasantri semoga ada yang sempat mengikuti kehebohan pemilihan Presiden AS. Ada satu pelajaran yang dapat dipetik, yang relevan dengan kepenulisan di duniasantri.co, yaitu tanggung jawab jurnalistik.

Ini sering menjadi pertanyaan: kepada siapa jurnalistik bertanggung jawab? Pertanyaan seperti ini wajar sering diajukan karena jurnalistik atau pers memang merupakan institusi independen, yang tidak memiliki relasi (dependen) dengan pihak mana pun. Ia tidak punya atasan. Ia tidak punya juragan.

Filososi dasarnyanya, jurnalistik bekerja untuk memenuhi hak-hak dasar publik, yaitu hak untuk memperoleh informasi dan menyatakan pendapat. Itulah kenapa jurnalistik atau pers juga sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi —setelah lembaga eksekutif, legislatif, dan judikatif. Melalui pers, publik dapat menyuarakan pendapatnya. Atas dasar itu, maka tanggung jawab jurnalistik adalah tanggung jawab ke publik. Bagaimana mengukurnya?

Mari kita lihat apa yang terjadi di AS, dan kemudian kita bisa mengambil contoh dengan apa yang dimiliki duniasantri.co.

Ketika calon incumbent Donald Trump memprovokasi publik dengan klaim kemenangan dan menuding pihak lawan melakukan kecurangan, baik melalui platform media sosial maupun media massa mainstream, namun tidak disertai dengan bukti-bukti yang didaku, maka media-media di AS langsung mengambil tindakan. Sebuah stasiun televisi ternama langsung menghentikan siarannya. Media-medoa mainstream tidak memuat pernyataannya —kalau pun memuat diberi catatan. Dan, media-media sosial memberi notice khusus.

Kenapa hal itu dilakukan oleh media-media AS? Bukankah Trump yang melakukan jumpa pers adalah peristiwa dan fakta? Bukankah Trump yang menulis di media sosialnya adalah juga peristiwa dan fakta? Dan Trump adalah tokoh yang prominence?

Di sinilah media-media AS memberi bobot tinggi pada nilai impact dari 10 nilai berita yang pernah kita diskusikan sebelumnya. Andai saja Trump, saat menyiarkan klaim kemenangan dan menuding kucurangan, melengkapinya dengan bukti, setidaknya bukti-bukti awal, pers di sana pasti akan memberikan liputan luar biasa, bahkan bisa langsung menurunkan tim untuk melakukan invesgative reporting. Sebab, impact atau dampaknya akan luar biasa bagi masa depan politik negeri Paman Sam itu.

Rupanya, pers di sana mencium gelagat yang ganjil. Media hanya akan dimanfaatkan oleh Trump atau dijadikan corong untuk menggiring dan membentuk opini publik, bahwa pemilu dipenuhi kecurangan dan karena itu harus ditolak. Pers di sana tidak mau hanya dijadikan corong, dan karena itu harus mengambil sikap: tidak memuat atau menyiarkannya, atau memuat dan menyiarkannya dengan catatan.

Apa yang dilakukan media-media di AS itu merupakan salah satu contoh tanggung jawab jurnalistik kepada publiknya. Pers tak mau publik disesatkan oleh pemberitaannya.

Kasus duniasantri.co

Kita, yang memiliki situs web duniasantri.co, juga memiliki tanggung jawab yang sama kepada publik kita, pembaca tulisan-tulisan kita. Karena itu, ada saatnya kita tidak memuat tulisan —semua tulisan yang disiarkan media pers masuk kategori bagian dari produk jurnalistik— salah satunya karena pertimbangan impact tersebut.

Belum lama ini, seorang dari kita men-submit tulisan yang tidak memenuhi nilai impact tersebut. Judulnya cukup provokatif: “Kesesatan Aqidah dan Ajaran Syi’ah di Indonesia”. Di dalam artikelnya, penulis membuat list pokok-pokok ajaran Syiah. Pada bagian penutup, penulis menyimpulkan bahwa ajaran Syi’ah adalah sesat dan menyesatkan.

Kita tahu, firqah dalam Islam sudah terjadi sejak sepeninggal Nabi, dan terus berkembang hingga harus diakui banyak firqah yang masih eksis sampai saat ini. Salah satunya adalah Syiah. Yang menyebut Syiah sebagai sesat pasti datang dari kelompok lain. Dan Syiah juga melakukan klaim yang sama. Faktanya, di Iran aliran Syiah ini menjadi agama resmi negara. Di banyak negara lain, Syiah menjadi mayoritas.

Dari sini kita sudah bisa membayangkan, begitu duniasantri.co meloloskan artikel ini, sudah pasti akan memunculkan minimal ketegangan publik. Itulah impact-nya pada publik. Di sisi lain, duniasantri.co bisa jadi akan diposisikan sebagai “corongnya” lawan Syiah.

Tim redaksi sudah sempat berdiskusi dengan penulisnya. Dan teman kita yang menulis bisa memahaminya. Malah sempat dicandai: apa siap kalau nanti didatangi orang Syiah jika tulisannya dimuat? Hmmm…

Begitulah teman-teman santri, saat menulis, sekaligus kita sudah harus menimbang soal tanggung jawab dan impact dari apa yang kita tulis.

KEBENARAN JURNALISTIK, KEBENARAN FAKTUAL

Kegiatan jurnalistik seringkali diidealisasi atau diklaim untuk mengungkap kebenaran. Pertanyaannya adalah, kebenaran yang bagaimana? Kebenaran versi siapa? Benarkah kebenaran yang diungkap melalui kerja jurnalistik adalah kebenaran yang sebenar-benarnya alias kebenaran hakiki?

Tentu tidak. Pada kenyataannya, kebenaran jurnalistik adalah kebenaran faktual, bukan kebenaran material atau kebenaran substansial menurut pengertian hukum positif. Artinya, pekerjaan jurnalistik hanyalah mengungkap suatu peristiwa sesuai dengan kejadian yang senyatanya, kejadian yang sebenarnya, sesuai dengan fakta-fakta yang ditemukan.

Yang harus kita ingat ini: kerja jurnalistik hanya mengungkap, bukan menghakimi atau menilai suatu peristiwa yang terjadi. Apakah menurut hukum positif kejadian atau peristiwa itu benar atau salah, itu bukan urusan jurnalistik. Itu urusan pengadilan. Apakah menurut ukuran nilai-nilai tertentu, kejadian atau peristiwa itu baik atau buruk, bukan juga urusan jurnalistik. Itu urusan penilaian publik.

Karena itulah, dalam mengungkap suatu peristiwa untuk dijadikan berita, pertama, seorang jurnalis tidak boleh berbohong. Itu kode etiknya. Seorang jurnalis bisa saja salah atau teledor dalam mengumpulkan bukti-bukti untuk mengungkap peristiwa yang sebenarnya, sehingga beritanya tidak akurat. Itu kesalahan yang bisa dimaaafkan (ma’fu) dalam dunia jurnalistik. Tapi tidak dengan kebohongan. Sengaja memberitakan sesuatu peristiwa yang tak pernah terjadi, atau memberitakan sesuatu yang berbeda dengan kejadian sebenarnya, adalah suatu kesalahan yang tak termaafkan.

Kedua, seorang jurnalis tidak boleh menilai atau memberikan opini terhadap suatu peristiwa yang terjadi. Tugasnya hanyalah benar-benar mengungkap suatu peristiwa dan merekonstruksinya menjadi berita sesuai dengan kejadian dan fakta-fakta yang sebenar-benarnya.

Mari kita ambil contoh, lagi-lagi, kasus kecelakaan Hanafi Rais di jalan tol belum lama ini, seperti yang kita ceritakan dalam catatan-catatan sebelumnya.

Seperti seorang penyidik atau detektif, seorang jurnalis juga harus turun ke lapangan, memeriksa bukti-bukti yang masih bisa ditemukan di lapangan, mewawancarai saksi-saksi (saksi korban/pelaku atau orang yang berada di lokasi ketika kecelakaan itu terjadi).

Beginilah kira-kira fakta-faktanya:

Bukti:

  1. Hanya ada satu mobil Alphard (milik Hanafi Rais) di lokasi dengan kondisi ringsek bagian depan;
  2. Hanafi Rais mengalami luka serius dan dirawat di sebuah rumah sakit.
  3. Sopirnya mengalami luka ringan.

Saksi:

  1. Dari pihak Hanafi Rais (keluarga): mobil Alphard milik Hanafi Raid korban tabrak lari. Kejadiannya, diseruduk dari belakang, kemudian menabrak truk di depannya. Kendaraan yang menyeruduk dari belakang dan yang ditabrak sama-sama lari.
  2. Dari pihak sopir: keterangan berubah-ubah, semula ia mengaku menabrak kendaraan di depannya; lalu berubah ditabrak dari belakangan.
  3. Kepolisian: mobil Alphard ditabrak dari belakang, lalu menabrak kendaraan yang ada di depannya. Semua kendaraan yang terlibat dalam kecelakaan itu kabur. Belum bisa memastikan tindakan selanjutnya.

Kemungkinan penyebab kecelakaan sebenarnya berdasarkan temuan di lapangan:

  1. Alphard melaju terlalu kencang, lalu menabrak kendaraan di depannya.
  2. Alphard disenggol dari samping belakang, sopirAlphard tak bisa kendalikan kendaraannya dan menabrak kendaraan di depannya.
  3. Sopir ngantuk atau mabuk (perlu pemeriksaan laboratorium).

Seorang jurnalis, berdasarkan temuannya di lapangan, bisa saja punya kesimpulan: Alphard menabrak kendaraan di depannya lantaran sopirnya ngantuk. Namun, berita bukanlah kesimpulan. Berita adalah pengungkapan fakta-fakta atas kejadian yang sebenarnya. Karena itu jurnalis tidak bisa menyampaikan kesimpulannya karena itu bersifat opini dan penilaian. Itu ranahnya penegak hukum.

Dengan fakta dan keterangan yang berbeda-beda, seorang jurnalis tidak boleh menyebut, misalnya, pihak Hanafi Rais atau saksi lain berbohong atau memberikan keterangan palsu dalam tulisannya karena itu sudah bersifat opini dan penilaian. Misalnya, menulis “Hanafi Rais berbohong atau memberi keterangan palsu”. Jurnalis hanya bisa menuliskan begini: “Hanafi Rais (atau saksi lainnya) memberikan keterangan berbeda, bla-bla-bla…”

Apakah dalam kecelakaan ini Hanafi Rais (dan saksi lainnya) telah berbohong atau memberikan keterangan palsu, hanya hakim yang berwenang membuat keputusan. Polisi pun, bila menangani kasus ini, kewenangannya hanya sampai pada level “menyangka”. Apakah dalam kasus kecelakaan ini pihak Hanafi Rais yang bersalah, itu juga ranahnya pengadilan, bukan ranahnya kerja jurnalistik.

Itulah yang disebut kebenaran dalam dunia jurnalistik, yaitu kebenaran faktual.

MEMBIASAKAN DIRI DENGAN DATA

Assalamualaikum sahabat-sahabat santri. Rasanya sudah lumayan lama kami tidak membuat catatan hal ikhwal kepenulisan di duniasantri.co. Kini, izinkan ada satu catatan tentang bagaimana seorang penulis membiasakan diri dengan data.

Kebetulan, itulah salah satu kelemahan atau kekurangan paling umum dari tulisan-tulisan yang disubmit ke duniasantri.co: data, fakta, referensi.

Padahal, tulisan yang paling kuat adalah yang dibangun dari atau didukung oleh data, fakta, dan referensi yang kuat pula. Ini berlaku untuk semua jenis, kategori, atau genre tulisan. Tulisan opini, misalnya, meskipun ia merupakan pendapat atau gagasan dari si penulis, tetaplah bahwa pendapat atau gagasan yang disuguhkan harus dibangun dari data, fakta, dan referensinya. Apalagi untuk jenis-jenis tulisan yang masuk kategori produk jurnalistik, seperti sosok dari seorang tokoh atau profil suatu pondok pesantren.

Bahkan, karya sastra pun, seperti cerita (novel/cerpen), yang terbilang bagus dan kuat adalah yang didasarkan pada hasil riset data, fakta, dan referensinya. Bahkan puisi/sajak pun, banyak yang dihasilkan dari atau diperkuat oleh pengamatan dan pergulatan si penulis dengan data atau fakta-fakta kehidupan. Kita harus ingat bahwa puisi atau sajak bukanlah sekadar untaian kata-kata yang mendayu-dayu, yang mengharu-biru —yang malah sulit dimengerti.

Begitu pentingnya data, fakta, dan referensi itulah maka banyak tulisan yang disubmit ke duniasantri.co akhirnya ditangguhkan —karena tidak didukung oleh ketiganya.

Satu contoh, misalnya, ada tulisan yang menyorot tentang konflik Palestina-Israel. Mungkin saja pendapat atau opini si penulis benar, tapi karena tidak didukung oleh bangunan data dan fakta yang kuat, sehingga menjadi argumentatif, maka tulisan tersebut dikesampingkan. Tanpa didukung dan dibangun di atas data, fakta, dan referensi yang sahih, tulisan opini kita akan terasa “gerundelan”.

Atau contoh lain lagi yang elementer. Misalnya kita menulis tentang profil pesantren. Kita menyebut pesantren X sebagai salah satu pesantren tertua atau terbesar. Bagaimana kita bisa mengukur “ketuaannya” kalau tidak pernah disebutkan tahun berapa pesantren itu didirikan. Bagaimana kita mengukur “kebesarannya” kalau kita tidak pernah menyebut, misalnya, luas bangunannya, jumlah gedung/kamarnya, luas tanahnya, ragam fasilitas pendidikannya, jumlah santrinya, dan sebagainya.

Sahabat-sahabat santri bisa membanding-bandingkan berbagai tulisan di banyak media, termasuk yang bertebaran di dunia maya. Bandingkanlah tulisan-tulisan yang dibangung di atas dan didukung oleh banyak data/fakta/referensi dengan yang sebaliknya. Rasakan bedanya. Bedakan kualitasnya.

Karena itu, mari biasakan diri bergulat dengan data/fakta/referensi untuk menghasilkan tulisan terbaik, yang semakin baik. Bagaimana caranya?

Ada satu contoh menarik. Dulu, pernah ada dua orang wartawan Tempo melakukan wawancara khusus dengan KH Ahmad Shiddiq (almarhum), pengasuh Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyah Jember. Saat wawancara dimulai, hanya satu wartawan yang melakukan wawancara. Satunya lagi? Jalan-jalan keliling pesantren. Hasilnya? Perpaduan antara hasil wawancara dengan pengamatan lapangan (hasil jalan-jalan). Artinya? Betapa riset/survei untuk memperoleh data/fakta sama pentingnya dengan (kutipan) wawancaranya.

Nah, data/fakta/referensi untuk membangun argumen kita, tulisan kita, bisa kita peroleh melalui riset kecil-kecilan atau memperbanyak referensi (bacaan). Misalnya, kalau kita ingin menulis tentang satu pesantren, paling tidak kita sudah harus siap lebih dulu dengan data elementernya. Begitu juga, kalau kita punya ide (topik) untuk menulis sebuah opini, maka kita sudah harus siap lebih dulu dengan datanya, fakta-faktanya, referensinya —meskipun tidak semua data/fakta/referensi tersebut kita cantumkan dalam tulisan kita. Rasanya tidak ada penulis sejati yang malas untuk menggali data, fakta, referensi.

Dengan membiasakan diri bergulat dengan data/fakta/referensi, semoga tulisan kita menjadi semakin berkualitas.

“SECEPAT APA TULISAN SAYA DIMUAT?”

Pertanyaan dalam judul itu bisa jadi juga ngendon di kepala kita, para kontributor duniasantri.co. Sebab, memang ada saja teman-teman kontributor yang secara pribadi mengajukan pertanyaan seperti itu. Ada juga yang berulang-ulang men-submit artikel yang sudah di-submit.

Karena itu, berikut kami sampaikan “pemeringkatan kecepatan” pemuatannya.

Pertama, artikel yang disegerakan untuk dimuat adalah yang bentuk/sifatnya berita, dalam hal ini untuk rubrik “Teras”. Tidak pakai lama, hari itu juga, bahkan mungkin hanya dalam hitungan menit atau jam akan langsung diproses. Itu semata-mata karena sifat dan karakternya.

Kenapa? Karena web kita sejak awal memang dirancang sebagai situs berita dengan konsep citizen journalism. Contohnya sudah ada. Beberapa teman dari Madura dan Yogyakarta sering mengirim artikel berita dan langsung dimuat saat itu juga setelah dilakukan penyuntingan.

Kedua, artikel dalam bentuk produk jurnalistik non-berita juga disegerakan, seperti untuk rubrik “Sosok” (profil tokoh), “Pondok” (profil pesantren), dan “Bintang” —tapi peringkatnya masih di bawah Teras. Tujuannya apa? Agar semakin banyak kiai-kiai kita, ustaz-ustaz kita, dan pesantren-pesantren kita, memperoleh tempat dalam dunia literasi.

Untuk yang kedua ini, terutama untuk rubrik “Sosok”, politik redaksional kita begini: lebih mengutamakan tokoh-tokoh di daerah, kiai-kiai di daerah, nyai-nyai di daerah, ustaz-ustaz di daerah, bahkan kiai-kiai langgar di kampung ketimbang para pesohor. Misalnya, belum lama ini ada yang submit profil Oki Setiana Dewi, artis yang ustazah atau ustazah yang artis. Bagi duniasantri buat apa? Sebab, kalau kita ingin tahu tentang Oki Setiana Dewi, profilnya sudah ditulis di mana-mana, sudah ada di mana-mana. Tapi kalau kita ingin tahu siapa kiai alim nan zuhud di Ciwaringin, Cirebon, di mana mencarinya? Itu tugas duniasantri.co.

Intinya, kita tidak menulis profil tokoh yang sudah sohor, yang semua orang sudah tahu, karena sudah banyak yang menuliskannya. Kecuali, kita memotret dan menghadirkan sosoknya dari sudut pandang yang berbeda —dan itu berarti sudah setengah opini.

Ketiga, artikel-artikel non-produk jurnalistik, seperti untuk Opini, Cerpen, Puisi, Santri Way, Pustaka, dan Humor. Untuk artikel-artikel dalam kelompok ini banyak faktor yang mempengaruhi kecepatan pemuatan—dengan asumsi artikelnya sudah layak muat.

Faktor pertama adalah kapasitas sumber daya pengelola(an) web. Untuk saat, kapasitasnya baru sekitar pemuatan 5 artikel per hari. Faktor kapasitas ini akan berkorelasi-relatif dengan faktor-faktor berikutnya.

Faktor kedua adalah keragaman rubrik per rubrik. Contohnya, tidak mungkin dalam sehari kita memuat lima artikel tapi semuanya puisi, atau semuanya cerpen. Keragamannya harus kita jaga. Jadi, jika sehari memuat lima artikel, maka akan diambilkan dari rubrik per rubrik; ada opini, ada puisi, ada cerpen, ada santri way, atau resensi buku. Agar web kita tetap variatif.

Faktor ketiga adalah “pemerataan” penulis. Misalnya, tidak mungkin tiap hari kita akan terus-menerus memuat tulisannya Si Fulan tanpa jeda meskipun naskahnya numpuk di redaksi. Sepanjang artikel yang disubmit memenuhi kelayakan, kami akan selalu menghadirkan penulis-penulis yang berbeda secara “berselang-seling”. Sebab apa? Web kita memang dirancang sebagai tempat semua santri mengasah diri dalam dunia kepenulisan.

Faktor keempat adalah relasi kontektual dan aktualitas tulisan. Misalnya, jika ada dua opini sama-sama memenuhi kelayakan, maka juga akan ditimbang aktualitas dan kontekstualitasnya. Yang topiknya lebih aktual dan kontekstual akan didahulukan.

Nah, semoga ini menjawab jika ada pertanyaan “kok tulisan saya belum dimuat-muat sih?” Jadi, kita tak perlu berulang-ulang submit naskah yang sama —kecuali ada penyempurnaan. Status naskah yang telah disubmit pada akun penulis adalah “pending”, artinya sumbit sudah berhasil tapi naskahnya ditahan di ruang redaksi. Jangan pernah khawatir naskahnya tak dibaca oleh tim redaksi. Pasti dibaca, bahkan lebih dari sekali, baru dilakukan proses penyuntingan.

Tinggalkan Balasan