PANDUAN MENGIRIM TULISAN DI DUNIASANTRI.CO

Semoga berfaedah.

TENTANG EKOSISTEM LITERASI KITA

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hari ini, Senin 23 Agustus 2021, web kita mengunggah 5 artikel baru, tapi hanya 1 yang link pemuatannya di-share di grup percakapan “Gerakan Santri Menulis” (GSM). Itu memang disengaja. Dan mulai hari ini kebiasaan kami men-share link artikel yang baru diunggah ditiadakan —kecuali untuk hal-hal khusus.

Dari sudut tertentu mungkin ini terlihat sebagai perkara remeh. Tapi, dari sudut lain, ini bisa jadi perkara serius:tentang konstruksi ekosistem literasi kita.

Hari ini, inilah yang terjadi: artikel pertama, puisi dengan judul besar “Kekasih Semua Orang” diunggah pada pukul 04.24 WIB. Sampai dengan pukul 06.39, saat linknya di-share, tak satu pun ada jejak orang yang membacanya. Padahal, selama hampir tiga jam itu, ada beberapa dari kita melakukan login, masuk ke akunnya di web, dan men-submit artikel. Setelah linknya di-share, barulah ada yang mulai membaca tulisan yang pertama diunggah tersebut.

Setelah itu ada 4 artikel lagi diunggah dalam jeda waktu berlainan, dan semua link pemuatannya tidak di-share. Apa yang terjadi?  Hanya 1 artikel yang dibaca beberapa kali. Tiga sisanya tak ada jejak dibaca orang sampai sekitar pukul 17.00. Padahal, dalam rentang waktu seharian ini, banyak, puluhan orang, yang melakukan login, masuk ke akunnya di web, dan men-submit artikel. Banyak artikel yang hari ini di-submit.

Apa arti dari gejala ini? Inilah perkara serius yang bisa dibilang mengkhawatirkan itu: jangan-jangan, kita hanya peduli pada diri sendiri. Mengirim artikel sendiri, menunggu pemberitahuan dimuat, lalu dibaca sendiri, dan di-share di kelompoknya sendiri. Selesai. Abai pada artikel lain yang juga dimuat. Tak peduli pada karya teman/penulis lain.

Jika gejala ini benar, maka mirip-mirip dengan apa yang disebut sebagai bagian dari snobisme intelektual, yang tak kondusif bagi ekosistem literasi.

Diam-diam, sudah beberapa lama, kami melakukan pengamatan terhadap “perilaku” kejejaringan kita dalam web duniasantri.co.  Jika di-profiling, dari 343 kontributor yang terdata kira-kira ditemukan tipologi seperti ini: Pertama, kontributor  pasif. Jumlahnya sangat banyak. Bahkan terbanyak, mungkin. Mereka ini membuat akun sebagai kontributor, namun belum pernah submit artikel atau sudah submit sekali dua kali tapi belum ada yang dimuat. Mungkin mereka ini menjadi pembaca yang pasif.

Kedua, kontributor superaktif. Jumlahnya tak terlalu banyak, tapi sangat-sangat aktif submit artikel. Ketiga, kontributor aktif. Jumlahnya juga tak terlalu banyak, tapi terbilang aktif (rutin) submit artikel. Keempat, kontributor agak-aktif. Jumlahnya relatif banyak dan tidak rutin dalam submit artikel.

Nah, “gejala abai pada yang lain” tadi, “snobisme intelektual” itu, bisa jadi ada di tipe kedua, ketiga, dan keempat sekaligus. Apakah itu baik? Apakah itu buruk? Bukan di situ persoalannya. Persoalannya ada pada apa yang seharusnya kita lakukan dalam membangun ekosistem literasi yang kondusif.

Di situ ada yang disebut apresiasi. Dalam ekosistem literasi yang kondusif, ada saling memberi apresiasi, ada saling respect. Jika tak ada itu, maka ekosistem literasi tidak akan kondusif. Apresiasi tidak identik dengan memuja atau memuji. Membaca tulisan orang lain adalah sebentuk apresiasi. Mengkritik atau memberi komentar apalagi.

Itulah salah satu alasan utama duniasantri.co ada: saling menguatkan melalui apresiasi dalam berliterasi. Mari bertanya pada diri sendiri: pernahkah kita merindukan membaca tulisan teman-teman kita di jejaring ini? Pernahkah kita “mencolek” teman-teman kita yang terasa sudah lama tidak menulis lagi?

(Saya secara pribadi, meskipun jarang, beberapa kali melakukan itu. Jika ada yang sudah lama sekali tidak menulis, saya biasanya japri sekadar menyapa begini: “gus (atau ning) apa kabar? Saya kangen baca tulisannya.”—meskipun belum tentu tulisannya nanti dimuat).

Nah, dengan ditiadakannya kebiasaan share link unggahan artikel itu, maka jika ingin mengetahui informasi apakah tulisan kita sudah dimuat atau belum, kita bisa mencari tahu sendiri di web kita. Jadi tak perlu menunggu-nunggu ada share link unggahannya. Semoga ekosistem literasi makin kuat, makin baik.

TENTANG PROFILING KEPENULISAN KITA

Berikut beberapa catatan dari redaksi duniasantri.co untuk dijadikan pertimbangan dan bahan diskusi dalam berliterasi.

(1)

Semula ada kekhawatiran, peniadaan kebiasaan share link pemuatan artikel di grup-grup percakapan Gerakan Santri Menulis akan menurunkan tingkat keterbacaan (views) situs web kita. Nyaranya kekhawatiran itu tak terjadi. Trennya justru terus menaik meski tak signifikan benar. Artinya kesadaran berliterasi yang sebenarnya telah terbangun; bahwa ilmu dan informasi itu harus dicari, bukan dinanti.

(2)

Ada kecenderungan para kontributor mulai banyak menulis berita untuk rubrik Teras. Namun, masih banyak yang belum terbiasa dengan bentuk berita yang sebenarnya. Sering bercampur antara berita dan opini —padahal dalam berita tak boleh ada opini.

Untuk kecenderungan ini ada dua hal yang perlu digarisbawahi. Pertama, kita harus lebih membiasakan diri dengan rumus “5W1H” dalam penulisan berita —kalau perlu sering-sering berlatih menulis berita (bukan untuk dimuat) dan membanding-bandingkan hasilnya dengan berita-berita pada media mainstream.

Kedua, berita yang cocok muat di situs web kita benar-benar berita tentang dunia santri, dunia pesantren, oleh dan untuk kalangan pesantren. Misalnya, belum lama ini ada kontributor yang submit berita tentang Kementerian Agama menyelenggarakan diklat (dakwah) digital. Institusi negara ini punya perangkat dan modal berlebih untuk menyiarkan kegiatannya ke seluruh dunia, karena itu web kita tak merasa perlu untuk memberitakannya. Lain soal kalau kegiatan serupa diselanggarakan oleh pesantren, maka duniasantri.co harus memberitakannya. Sesederhana itu rumusan umumnya.

Sebagai catatan di poin kedua, direkomendasikan, dan memang ada baiknya demikian, seluruh kontributor duniasantri.co membiasakan diri dengan penulisan jurnalistik dengan penerapan kaidah “5W1H”. Percayalah, dengan membiasakan diri dan menguasai penulisan jurnalistik, menulis dalam bentuk apa saja akan terasa lebih mudah. Basis atau fondasi kepenulisan kita akan semakin kukuh. Itulah kenapa, dalam satu workshop cerpen kita, Putu Fajar Arcana menyodorkan teknik penulisan cerpen dengan mengadopsi kaidah penulisan jurnalistik “5W1H” ini.

Karena kita bukan jurnalis sungguhan, kita bisa belajar dan mencobanya dengan cara sangat sederhana. Menuliskan peristiwa sehari-hari di sekitar kita dalam bentuk berita, dengan penerapan kaidah “5W1H”, diulang dan terus diulang hingga kita mahir melakukannya. Persis seperti belajar naik sepeda.

(3)

Jumlah santri yang melakukan registrasi sebagai kontributor semakin banyak dan beragam, terutama beragam dalam hal kemampuan dan usia. Saat ini sudah bergerak ke angka 500 kontributor. Dari segi kemampuan, misalnya, ada yang sudah mahir dan memiliki gaya tersendiri dalam menulis. Namun, tak sedikit yang masih belajar dan tulisannya belepotan. Dari segi usia, misalnya, ada yang sudah di atas 40 tahun. Tapi ada juga yang masih 12 tahun! (Bayangkan, anak 12 tahun mendaftar menjadi kontributor duniasantri.co!)

Dengan semakin banyaknya kontributor, tentu tingkat “persaingan” menulis di duniasantri.co menjadi lebih ketat. Setidaknya, durasi pemuatan tulisan dari seorang kontributor akan “terganggu” dengan hadirnya kontributor- kontributor lain —mengingat keterbatasan sumber daya di lingkungan jejaring duniasantri.

Dengan latar itu tentu diperlukan “seni” tersendiri dalam menentukan “standar mutu” pemuatan tulisan, mula-mula dimulai dari “standar minimalis” dan terus di-upgrade sesuai dengan perkembangannya. Jika cermat memeriksa tulisan-tulisan masa-masa awal duniasantri.co hingga yang terkini, pasti akan terasa ada tahapan “upgrading” standar yang dipakai.

Intinya, dari waktu ke waktu harus selalu ada peningkatan standar kualitas. Kita tidak bisa hanya “begini-begini saja” atau “begitu-begitu saja” dan cukup puas dengan itu. Harus ada saatnya situs web kita ini, duniasantri.co, “tak layak” lagi mewadahi perkembangan kepenulisan kita hingga kita harus mencari media-media yang lebih besar, yang lebih berkualitas, mungkin lebih berkelas dan bergengsi, untuk mewadahi karya-karya kita. Dan di saat itu mungkin kita juga sudah menerbitkan media baru yang sekarang sedang digagas oleh teman-teman di jejaring duniasantri: “jurnal ilmiah duniasantri”.

Untuk naik ke puncak, kita harus menyiapkan dulu tangganya. Dan duniasantri.co adalah salah satu dari anak-anak tangga itu.

Untuk catatan poin ketiga ini, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi. Pertama, tidak semua penulis selalu bisa melahirkan tulisan yang baik, atau sebaik sebelumnya dan setelahnya. Itulah kenapa adakalanya kadang-kadang tulisan kita dimuat kadang-kadang tidak. Yang tulisannya pernah dimuat duniasantri.co tidak berarti seluruh tulisan yang kemudian juga akan dimuat. Sebab, setiap tulisan akan diperlakukan sama: melalui tahapan dan proses editing.

Tapi reaksi para penulisnya memang berbeda-beda. Ada yang tak peduli jika ada tulisannya yang tidak dimuat dan terus saja berkarya. Ada yang setelah tulisan terakhirnya tak dimuat berhenti mengirimkan karyanya. Ada yang tak peduli tulisannya tak pernah ada yang dimuat dan terus saja mengirimkan karyanya. Ada yang sekali dua kali mengirimkan tulisan dan berhenti melakukannya karena tak dimuat. Ada yang baru bergabung dan baru submit satu tulisan minta segera dimuat. Bermacam ragam.

Sekarang kita ambil contoh. Di duniasantri.co, Kiai Rusdi tergolong paling aktif dan tulisannya paling banyak dimuat. Tapi jangan salah sangka. Bukan berarti tak ada tulisannya yang tak dimuat. Banyak. Mungkin malah paling banyak. Tapi Kiai Rusdi sepertinya paham kenapa tulisannya yang ini atau yang itu tak dimuat.

Contoh lain adalah Khalil Satta Elman yang puisi teranyarnya dimuat pada Jumat (10/9/2021). Empat puisi di bawah judul “Ibu, Malam Sudah Terpejam” itu merupakan seleksi dari sekitar 15 puisinya yang dikirimkan secara berturut-turut sejak sebulan sebelumnya. Artinya, ketika “serumpun” puisi yang dikirimkannya belum dimuat, Khalil Satta tetap berkarya dan mengirimkan karya-karya lainnya. Artinya, banyak juga puisi Khalil Satta yang oleh tim redaksi dinilai tidak layak muat.

Kedua, ada sejumlah penulis yang mencoba “curang”. Mungkin sudah tidak ada lagi plagiasi atau copy paste —setelah tahun lalu. Tapi ada saja yang mencoba-coba mengirimkan tulisan sendiri tapi sebelumnya sudah pernah dimuat media lain. Tim redaksi selalu melakukan tracing terhadap setiap tulisan yang masuk. Jika diketahui ada yang seperti ini, maka duniasantri.co tidak akan memuat tulisannya, termasuk tulisan-tulisannya yang lain, sampai dengan adanya klarifikasi dari yang bersangkutan dengan catatan tidak akan ada lagi pengulangan.

Ketiga, untuk yang baru bergabung dengan duniasantri.co, karena dalam dua minggu belakangan banyak yang baru membuka akun kontributor, ada baiknya mempelajari terlebih dahulu karakter dari setiap rubrik di duniasantri.co dan standar penulisannya. Ini diperlukan agar kita mengenal betul karakter dan politik redaksional duniasantri.co sehingga tidak melakukan hal yang sia-sia. Contohnya, seseorang mengirimkan tulisan yang isinya berasal dari ceramah seorang gus/kiai di kanal Youtube. Itu bukan konsumsinya duniasantri.co. Sebab, orang sudah bisa menyimaknya di kanal Youtube.

Atau, contoh lain, adalah tulisan-tulisan bertema “Islam amalan” atau “Islam how to”.  Misalnya, tentang bacaan ayat tertentu agar cepat kaya atau terbebas dari utang, dan yang semacamnya itu. Tulisan-tulisan bernada seperti ini pasti tak dipertimbangkan. Jadi, mengenali karakter dan politik redaksional itu penting bagi semua penulis.

Keempat, bagi yang sudah (sering) mengirimkan tulisan tapi belum pernah dimuat sebaiknya tak pernah berputus asa mencoba dan terus meng-upgrade kemampuan kepenulisannya. Untuk sementara, tulisan-tulisan tersebut oleh tim redaksi memang dinilai belum memenuhi syarat —bahkan setelah dibongkar-pasang secara berulang. Ada baiknya sebelum submit mengonsultasikan tulisannya ke kanan-ke kiri atau ke teman-teman yang sudah piawai, termasuk teman-teman yang ada di grup Gerakan Santri Menulis. Intinya, tunas-tunas kepenulisan itu jangan sampai layu atau mati sebelum berkembang.

BEDAH NASKAH

Sepertinya lebih enak kalau sekarang kita coba “bedah naskah”. Sebelumnya mohon maaf buat sahabat warga duniasantri yang naskah aslinya dijadikan contoh untuk bedah naskah di sini —tapi tetap dengan merahasiakan penulisnya.

Bedah naskah kita perlukan untuk belajar bersama demi peningkatan kualitas penulisan di web kita sendiri, duniasantri.co.

Inilah naskah yang masih asli:

******

Syiar Sholawat dan Maulid Nabi Di Tengah Pandemi

Sholawat nabi merupakan salah satu amalan yang memiliki arti dan definisi yang sangat mendalam. sehingga kita sebagai umatnya, sudah sepatutnya mengamalkan dalam aktivitas sehari-hari. Anjuran sholawat ini terkandung dalam Al-quran surat Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya:

” sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”

saat ini, sudah memasuki bulan rabiul awal pada kalender hijriyah yang mana didalamnya terdapat peristiwa penting bagi umat muslim yaitu maulidnya Nabi Muhammad SAW. Biasanya masyarakat di Indonesia ramai menyelenggarakan peringatan ini sebagai ungkapan rasa syukur dan cinta atas kehadiran nabi.

namun kondisi saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. hal ini karena kita sedang diuji oleh wabah virus covid-19, sehingga ada batasan yang harus dipatuhi dengan tujuan memutus mata rantai penyebaran virus tersebut .

dengan adanya batasan tersebut tentunya tidak menjadikan alasan bagi para pecinta Rasulullah untuk memperingatinya. Salah satunya dengan mensyiarkan maulid dengan bersholawat dirumah saja, seperti yang dijelaskan oleh Menteri Agama Fachrul Razi melalui surat edarannya terkait kegiatan keagamaan ditengah pandemi yang bertujuan untuk meminimalisir risiko kerumunan massa.

hal ini mendapat tanggapan positif oleh masyarakat sehingga menghasilkan inovasi yaitu mengadakan perlombaan online. salah satu contoh adalah festival sholawat online, yang mana pesertanya membuat rekaman bersholawat dengan sekreatif dan sevariatif mungkin lalu dikirimkan kepada panita seperti yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Tilawatil Qur’an Al-Mahfudz di Demak, Jawa Tengah. Festival ini diikuti oleh 30 tim peserta yang berasal dari berbagai kota di Indonesia antara lain Bandar Lampung, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.

dengan adanya perlombaan ini bertujuan untuk meningkatkan syiar islam dengan sholawat nabi, sehingga semarak maulid nabi masih bisa dirasakan oleh masyarakat walaupun tidak semeriah biasanya. Dan berharap di bulan kelahiran nabi ini dengan keberkahan sholawat kepadanya kita mendapatkan syafaat kelak di hari kiamat.

******

Naskah ini disubmit pada 1 November 2020 untuk rubrik Opini.

Jika kita membaca mulai dari judul hingga alenia keempat, terasa bahwa artikel ini dimaksudkan untuk opini atau tulisan dalam bentuk opini. Namun, setelah itu, sejak dari alenia keempat hingga ketujuh, tulisan ini bermaksud memberikan informasi dalam bentuk berita.

Jadi, kesimpulannya, naskah ini jenis kelaminnya tidak jelas. Disebut opini bukan, karena tidak ada pembahasan terhadap topik atau ide tertentu. Dibilang berita juga bukan, karena tidak memenuhi unsur 5W+1H seperti catatan-catatan kita sebelumnya.

Ini bukan yang pertama. Naskah seperti ini sering masuk ke redaksi, tentu dari penulis yang berbeda-beda. Biasanya, setelah dilakukan beberapa kali “tektokan” barulah muncul naskah baru dengan jenis kelamin yang jelas dan siap dirilis.

Dalam naskah ini, kita belum tahu apakah si penulis ingin membahas masalah selawat (di KBBI yang baku selawat, bukan sholawat atau shalawat) dan maulid Nabi atau menginformasikan kegiatan perayaan maulid Nabi dengan lomba selawat.

Terhadap naskah ini, mestinya ada dua skenario. Pertama, ditulis dalam bentuk opini. Maka, topik yang relevan dan aktual untuk dibahas, misalnya hukum perayaan maulid Nabi, boleh atau tidak boleh, bidah atau bukan, disertai dengan dalil-dalil dan argumennya. Lalu, bagaimana dengan beragam tradisi maulidan di berbagai daerah. Apa pendapat penulis dan seperti apa argumennya. Jika konstruksinya seperti ini, maka jenis kelaminnya menjadi jelas: tulisan dalam bentuk opini/artikel.

Kedua, ditulis dalam bentuk berita. Tentu saja, syarat penulisannya harus sesuai dengan kaidah penulisan jurnalistik, memenuhi unsur 5W+1H. Dalam naskah ini, yang terpenuhi baru dua unsur, yaitu what (apa) dan who (siapa). What-nya adalah festival selawat online dan who-nya adalah Pondok Pesantren Tilawatil Qur’an sebagai penyelenggara dan para peserta. Selebihnya tidak ada.

Kira-kira, kalau akhirnya ditulis dalam bentuk berita, akan menjadi seperti ini:

Judul:

“Maulid Nabi, Pesantren Tilawatil Quran Gelar Festival Selawat Online”

 Lead:

Dalam rangka memperingati maulid Nabi Muhammad, Pondok Pesantren Tilawatil Qur’an Al-Mahfudz Demak, Jawa Tengah, menggelar festival selawat secara online yang berlangsung pada Kamis (29/10/2020). Festival selawat yang digelar secara online karena pandemi ini diikuti oleh 30 tim peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Pemenangnya akan memperoleh hadiah berupa… bla-bla-bla….

Selanjutnya baru diikuti kronologi dan suasana pelaksanaan festivalnya.

 Dari Bedah Naskah seperti ini, bagi teman-teman warga duniasantri yang baru mengawali menulis, sudah punya gambaran jelas: jenis tulisan apa yang akan dibuat. Kalau mau menulis opini, perangkatnya harus disiapkan. Kalau mau menulis berita, kaidahnya harus diikuti.

Begitulah salah satu cara dan ikhtiar kita untuk tetap menjaga standar kualitas.

BEDAH CERPEN

Berikut naskah asli cerpen

***

Ternak yang “Menguntungkan”

Perayaan wisuda di madrasah aliyah tempat Mansur dihelat, dengan mengundang dai untuk memberikan mauizah hasanah;nasihat keagamaan, sebagai pengantar ijazah yang terselip ditangan para alumni.

“Adik-adikku wisudawan MA Darussalam, yang diberkahi Allah. Selesai belajar di sini, saya harapkan kalian melanjutkan kuliah atau bekerja. Pokoknya jangan nganggur. Harus terus menyibukkan diri, sibuk yang berkualitas dan sibuk yang produktivitas. Laysal ghina ‘ankatsratil’ardhi walakinnal ghina ghinan nafsi. Jadilah kaya, kaya bukan lantaran banyak harta, tetapi kaya itu adalah kaya jiwa”.

Hadirin tertegun, ada juga yang melamun. Para lulusan mendengarkan, tidak sedikit pula yang melewatkan. Mansur terpaku pada seremonial. Duduk tenang, sembari melirik orang tuanya yang berada di barisan yang berbeda. Pikirannya membuncah, tak berani ia berpikir untuk melanjutkan kuliah. Alasan ekonomi jelas menjadi kendala utama. Syukur-syukur ia mampu melanjutkan sampai jenjang aliyah. Berkat adanya kartu sakti; Indonesia Pintar dan Program Keluarga Harapan.

“Di tengah zaman yang disebut ‘edan’, jauh dari sudut kewarasan. Dosa yang sudah dianggap kewajaran. Maka, kayakan dirimu wahai para lulusan..Kaya iman, kaya ilmu, kaya hati, kaya wawasan-pengetahuan, juga kaya materi. Bekerjalah dengan keras dibarengi dengan tawakal dan doa. Petani, pegawai kantoran, pedagang, peternak, apapun itu carilah rejeki yang halal.

Berbicara tentang ternak, saya mau tanya, ternak apa yang bisa membuat cepat kaya?” Sang dai meneruskan ceramahnya dengan pertanyaan retorika untuk membuat pesona orasinya. Hadirin siap menunggu jawaban dai, yang pasti akan menderai tawa dalam benak mereka.

“Ternak yang cepat membuat kaya adalah dengan cara beternak tu..yul”. Disambut riuh tawa dari seluruh hadirin undangan wisuda.

“Ya, ternak tuyul itu cepat menghasilkan. Tapi, saya yakin lulusan madrasah Darussalam tidak akan melakukannya. Karena sudah dibekali ketahuidan, dibentengi dengan bermacam ilmu keagamaan. Akhirnya, selamat dan sukses kepada para lulusan. Wassalamualaikum Wr.Wb.”

Sang dai menutup ceramahnya. Mansur tetap tertegun, terngiang kata “sukses”yang menjadi akhir seremoni. Semua mengatakan tentang sukses. Kepala madrasah, Kepala Desa, Ketua Komite, sampai dai yang diundang, tidak pernah teralpha kata “sukses”. “Selamat dan sukses!”

Sejak sepuluh tahun silam, Mansur benar-benar membenci kata “sukses”. Kata tersebut, baginya adalah buaian. Kata bohong; sebuah noun pengingkaran tentang hidupnya kini. Sukses secara harfiah beretimologi beruntung atau berhasil. Dan harfiah “sukses” tersebut, berbanding terjungkir dengan kehidupan Mansur.

Setelah lulus, Mansur bekerja serabutan. Menjadi buruh tani, kuli bangunan, mencari rumput, kuli angkut pasar, marbot masjid, apa saja. Demi hidup, demi uang, demi makan dan demi sekedar untuk bisa buang hajat layaknya manusia normal.

Sukses bagi Mansur adalah mimpi; dongeng kocak, fable dan dia sebagai hewan yang bisa berbicara. Dengan kemustahilan sebagai karakteristiknya. Sukses bagi Mansur adalah ketika takdir kerelaan Sundari menerimanya sebagai pendamping hidupnya. Tanpa syarat, tanpa sebab. Dan jelas kerelaannya menjadi wilwatikta, swargaloka nan indah. Smaradhana, Sundari menyempurnakan simbol kejantanan Mansur, dengan satu plasma nutfah yang nyata. Lengkap dengan hidung dan mulut. Mata dan senyum mungil yang membuat Mansur rela mengorbankan apa pun. Meruntuhkan langit jika ia meminta sanggup Mansur lakukan. Menggoyang mayapada, bila perlu. Agar Mikail sudi turun dan berdebat dengannya, tentang rejeki yang mungkin terlewat, Mansur siap melakukannya.

Klimaks dari putar balik plot kehidupan Mansur berawal sore ini. Ketika bapaknya yang renta, menunggunya diteras tragedi. “Le, pinjami aku uang dulu yo. Untuk nggarap sawah. Beli bibit, pupuk, sama buruh tandurnya.” Mansur mengangguk satu kali.

“Oh ya, lali aku. Sekalian biaya selamaten mbahmu. Pinjami dulu ya le.”. Mansur mengangguk dua kali tak menjawab. Bapaknya tersenyum, kemudian bergegas pulang.

Mansur mengetuk pintu, mengucap salam yang dibalas istrinya dengan raut elegi, merintih yang tak terucapkan. Tergambar dalam cekungan pipinya. Daster yang tipis, sobek di dua ketiak, bahkan jauh dari kata pantas untuk sekedar dijadikan kain lap meja kotor. Tapi, sambatan dari sayatan meminta kepada suami, Sundari sembunyikan dalam sepuluh ribu kesabaran, bahkan lebih. Mansur sukses mendapatkan istri yang begitu nrima ing pandum, selalu diam, tak pernah mengeluh. Justru ini semakin membuat Mansur membenci dirinya, membenci kehidupannya, seakan ingin mengepalkan dan mengajak tawuran dengan Sang malaikat pembagi rejeki.

“Mas, adikku tadi kesini. Ia bilang, ibuku butuh uang untuk kontrol diabetnya. Ibu harus terapi insulin. Pinjami dulu duit ya mas”. Mansur bergeming. Mengangguk tiga kali. Sundari kembali ke kamar, setelah mendengar Maksum putera bak parabel dengan tokoh Parikesit di dalamnya, yang mampu mengubah baratayudha di padang kurusetra, menjadi negeri pandhawa nan sentosa, gemah ripah loh jinawi. Sundari dari dalam bilik menenangkan Maksum yang tiga puluh delapan derajat panas dijidatnya yang tak jua turun.

“Mas, maksum harus dibawa ke bidan. Ini panasnya sudah dua hari tidak turun. Sore atau besok ya mas, sekalian bayar BPJS biar dapat keringanan”, Sundari memelas kasih, suaranya tampak parau. Tersayat kekhawatiran mendengar jerit tangis buah hati. Mansur diam, dadanya bergaung sembilu, ia mengangguk empat kali.

“O ya mas, ini tadi ada pegawai bank kesini, katanya mas telat membayar. Dan besok harus bayar cicilan pokok dan bunganya”, Sundari seperti tak tega melanjutkan tuntutan, dengan suaminya sebagai terdakwa prahara kehidupan yang ia sendiri tahu, carut-marut, miskin semiskin-miskinnya, dengan tangan di bawah bentuk dari sebuah kepantasan tak terelakkan. Mansur mengangguk lima kali, bahkan lebih. Tak berkata, hanya mengangguk. Anggukan untuk melegakan bapaknya, istrinya, tapi tidak kepada dirinya sendiri.

Mansur lunglai, ia menutup pintu triplek rumahnya. Berjalan seperti biasa ke TPQ masjid untuk mengajar santri kecilnya. Tetap dalam mengangguk disertai cabikan kehidupan tak mapannya. Mansur mengadu:

“Ya Allah, perkenankan aku sambat. Kewajibanku sebagai hamba telah aku lakukan. Ku ikuti perintahMu, kujauhi laranganMu. Selayaknya derita menjauhiku. Seharusnya aku pantas menyandang kata sukses. Sudikah diriMu mengiyakan? Aku tidak berbuat yang sekiranya membuatMu marah, jadi tolaklah kemiskinanku, tolak segala ketidakberuntunganku. Gantikan nasib burukku. Dunia ini fana, tapi batin ini meronta. Karena Mansur adalah manusia biasa, tak lepas dari keinginan fiddunya hasanah..wa fil akhirati..”. doanya terputus.

Mansur menutup doanya, tetapi tidak dengan mengusap kedua tapak tangan ke wajah. Doa yang ditutup dengan batas kesabaran. Batas pengharapan yang baginya tak pernah nyata berbalas. Batas ketabahan dari garis nasib yang begitu perih, tersayat luka dunia, yang semakin menganga. Lebih perih lagi, seakan luka itu tertetesi air garam, sedikit demi sedikit. Tangan kanan Mansur menelungkupkan jarinya ke dalam. Mengepal erat, kemudian memukul ke dinding tembok masjid yang keras. Pukulannya penuh tekad. Keras hingga kulit luarnya sedikit mengelupas.

Kini, Mansur tak peduli apapun. Ia siap dengan segala konsekuensi. Ia harus akrab dengan kata “sukses”. Mulai sekarang. Nasibnya yang terus di bawah, harus diubah ke atas, menyentuh awang-awang langit nasib. Merobek kertas derita. Mengoyak jala “kesusahan”.

Puncak klimaks tragedi, yang jelas bukan komedi unik ala Iwan Simatupang, disertai anggukan Mansur dua tahun lalu, secara cepat berganti ode; pujaan untuk dirinya sendiri.

“Ayo, kang..cepat carikan sewa tanah untukku. Aku siap menanami apa saja. Tebu, padi, apa saja”, kata Mansur kepada Kang Seno.

“Apa belum cukup to, Nak Mansur. Hampir sepertiga tanah di desa ini telah kau sewa. Telah kau garap. Biarkan mereka menggarap sendiri meski hasil tidak seberapa, setidaknya penduduk bisa menjadi juragan di tanahnya sendiri”, Kang Seno menasihati.

“Ah, mereka itu pemalas, Kang! Aku dulu juga pernah diposisi itu. Tidak sedikitpun aku minta bantuan mereka. Aku kerja keras, Kang. Dan, kini lihat..Aku sukses sekarang. Aku telah memiliki toko sembako, sewa tanah dimana-mana, justru aku membantu mereka, Kang. Biar mereka sukses seperti aku. Sukses, Kang..sukses..” Mansur berbalik. Kini ia akrab dan mencintai dengan kata “sukses”.

Mansur tempo dua tahun sejak mengepalkan tinju dendamnya ke langit berubah. Ia kaya. Tangannya tak lagi di bawah. Tapi, di atas dengan tapak tangan berposisi ke bawah.

Santri kecil di TPQ malas Mansur memberi ngaji. Kini, ia menjadi juragan toko sembako terbesar di desanya. Tuan tanah. Rumah megah, mentereng, dengan pagar menjulang. Seolah memisahkan dan menjadi metafor kesuksesan. Gubuk kemiskinan, ratapan rintihan tak lagi berdenging di gendang telinga. Bahwa, Mansur kini seorang yang sukses, memunyai banyak harta, melimpah kebendaan duniawi, dan jauh dari kata sambatan yang dulu ia sering ucapkan pada dirinya sendiri ataupun Tuhan.

Mansur tidak pernah sambat atau mengeluh lagi kepada Sang Ghani. Ia jauh, bahkan terlampau jauh, untuk sekedar mengingat, apalagi menyebut dan menyembah bersujud, sudah samar. Mansur berada di puncak kata “kesuksesan”.

“Jadi begini saja, Pak Darno. Saya sepakat kemitraan dengan Bapak dalam usaha ternak ayam petelor dan pedaging. Segera nanti sampeyan urus semua. Saya tinggal teken dan transfer uangnya”, Mansur bermufakat dengan rekan bisnisnya.

“Baiklah kalau begitu Pak Mansur. Segera saya urus pembuatan kandang dan bibit ayamnya. Untuk masalah limbah nanti bagaimana Pak? Ya, takut kalau ada warga yang protes karena menyengatnya bau kotoran ayam, kerumunan lalat, juga limbah lainnya?”

“Santai saja, Pak. Biar nanti saya tepuk muka mereka dengan uang, biar mereka diam. Wong miskin saja, kalau dikasih duit juga akan diam. Hahaa”. Mansur dan Pak Darno terkekeh membayangkan pundi laba yang segera bertambah.

Tersilap, Mansur melihat dua makhluk gundul, hanya menggunakan cawat menatapnya. Berkulit putih pucat, dengan bola mata yang bulat. Buah hati Sundari? bukan!.

Mansur melihat dan memahaminya. Tapi, Pak Darno tidak menyadari keberadaan dua makhluk tak kasat mata tadi, melihatpun tidak. Hanya Mansur yang bisa melihat, karena dua makhluk tadi adalah rumatannya.

Mansur meminta izin kepada tamunya, “Sebentar saya tinggal dulu, ya Pak. Saya mau ternak dulu”

Pak Darno bingung, “Memang ada ternak yang lebih menghasilkan dari ternak ayam ini, Pak?”

“Lo..ada. Ternak tuyul..”, jawab Mansur tergelak persis derai tawa saat lulusan waktu silam. Dan Pak Darno menganggapnya sebagai tiupan angin lalu.

***

CATATAN:

Setelah saya baca ulang, ini beberapa catatan saya:

  1. Karya sastra yang paling genuine itu yang disajikan secara realis. Dalam hal cerpen, ia menceritakan tentang kehidupan tokoh(-tokoh)-nya melalui dialog antartokoh atau penggambaran riil apa yang dilakukan oleh tokoh(-tokoh)nya. Dalam hal Mansur, misalnya, dari mana pengarang/pembaca tahu perasaan dan pikiran Mansur kalau tidak dari dialog atau penggambaran riil apa yang dilakukannya. Contoh (1): Mansur benci kata sukses; dari mana kita tahu hal itu. Tak ada dialog soal itu baik dari Mansur atau tokoh lain. Ia miskin, benar adanya. Tapi miskin tak identik “benci sukses”. Jadi kita perlu lebih fokus dan intens menyajikan dialog dan penggambaran riil apa yang dilakukan oleh tokoh(-tokoh)nya. Contoh terbaik untuk ini salah satunya cerpen-cerpen Ernest Hemingway.
  2. Karya sastra harus “subversive”. Artinya menyajikan sudut pandang di luar common sense, di luar logika umum, tak terduga. Contoh adegan dalam sebuah cerita Gabriel Marquez: dalam suatu penguburan seorang tokoh, si istri justru tampak sumringah, banyak senyum. Tidak menampakkan wajah duka. Tidak meneteskan air mata. Temannya bertanya, “Kenapa kau tampak bahagia justru ketika sedang mengubur suamimu?” Si istri menjawab, “Sejak detik inilah aku tahu di mana keberadaan suamiku ketika sedang tidak berada di rumah…”.

Subversifnya: ia bahagia saat seharusnya sedang duka (sudut pandang berbeda) dan sebaliknya.

Realisnya: isi perasaan diungkapkan melalui dialog dan penggambaran bahasa tubuh (bahagia: senyum, tidak menangis) karena pengarang sebagai orang ketiga sama dengan posisi pembaca.

    1. Dalam hal cerpen ini, karakter tokoh utamanya di klimak plot justru tidak ada. Dari miskin tiba-tiba kaya —yang belakangan baru diketahui punya tuyul. Hal yang terpenting seharusnya adalah penggambaran bagaimana Mansur menyikapi kemiskinannya, bagaimana pergulatan batinnya ketika terjadi “migrasi” dari seorang santri menjadi peternak tuyul. Sudut “subversive” mana yang akan kita peroleh dari “migrasi” Mansur ini?
    2. Dalam hal cerpen ini, ada fragmen-fragmen yang tidak logis. Misalnya, sudah pasti kemiskinan Mansur diketahui oleh orang-orang terdekatnya, istri dan bapaknya, misalnya. Logiskah kalau kita pinjam uang kepada orang yang kita tahu orang tersebut miskin?
    3. Terakhir, di banyak tulisan Mas Anang sering memasukkan banyak hal lain yang dimaksudkan asosiatif pada peristiwa yang pernah ada, yang sesungguhnya tak perlu karena mengganggu. Di cerpen ini, misalnya, yang dimasukkan kebetulan ini: komedi unik ala Iwan Simatupang. Pembaca akan meninggalkan Mansur dan justru mencari Iwan Simatupang.

Tinggalkan Balasan