Begitulah Parit. Selalu saja tertawa. Tanpa beban, loss nggak mikir!
Entah apa yang merasuki Parit. Sudah tiga hari ini dia menjadi pendiam. Jangankan tertawa, senyum pun terasa dipaksakan. Parit bagi teman di kos ataupun di kelas layaknya oase. Menyejukkan suasana. Kini berubah menjadi gurun, tandus, kering, tanpa guyonan dan bualannya.

“Kamu kenapa, Rit?” tanyaku memulai percakapan dan baru kali ini aku seserius ini. Parit tetap diam.
“Kamu ingat bapakmu, Rit?” tanya temanku sekosan Sigit. Parit membisu.
“Kamu punya utang di warung kopinya Pak Yudi? Berapa, biar aku lunasin,” Idrus yang juga sekosan menerka.
“Atau jangan-jangan kamu melarikan anak orang, Rit? Aku sudah tahu kamu suka sama Ifa, tapi bukan begitu caranya, Rit,” celotehku menebak. Kali ini Parit tidak diam, tapi seperti tersinggung.
“Kalian tahu apa? Sudah! Kalau tidak mau membantu pergi sana. Cari teman lain,” tiba-tiba Parit tersulut.
Sudah seminggu kosan kami seperti kota mati. Diam. Bicara pun seperlunya. Juga di dalam kelas, suasana tidak meriah seperti dulu. Parit bagi kami adalah Loki, Dewa Tawa Eufrosine bagi mitologi Yunani, Nuaiman bin Amru bin Rafaah dalam syarah Ihya’ Ulumuddin, Stephen Chow, atau Cak Lontong. Ironis!
Hingga suatu waktu, tetap dengan keseriusannya, Parit memanggil kami berkumpul di ruang tengah kosan. “Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan, dan pasti kalian bertanya kenapa seminggu ini aku diam.”
Aku terkejut. Tak pernah Parit menempatkan diriku dalam situasi serius seperti ini. “Sebenarnya ada apa to, Rit? Kami penasaran,” tanyaku.
“Kita kan kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, betul? Makanya, aku menulis opini, esai, cerpen, artkel, tajuk, bahkan surat pembaca ke media-media tak satu pun dimuat. Fair kah ini?”
Sesimpel ini, pikirku. Aku kira sebuah persoalan yang maha berat. Ternyata… belum puas dalam ketidakpuasanku, kembali Parit melanjutkan.
“Mungkin kalian anggap ini sepele. Tapi aku tidak. Bagiku ini penghinaan. Taufik Ismail dokter hewan bisa menjadi sastrawan. Gus Mus tidak pernah kuliah bahasa. Cak Nun lulus kuliah pun tidak. Padahal di tiap-tiap artikel yang dimuat atau diposting aku rasa biasa saja. Jangan-jangan karena mereka editor, foundernya, karena kepopulerannya saja tidak melihat muatan isinya. Atau sudah kena suap karena sahabat atau hubungan kerabat. Ini sudah tidak fair!”
