Kami pun diam tanpa bisa berkata apa-apa. “Hanya” masalah inikah yang membuat Parit menjadi terobsesi. Lalu, kini meledak-ledak bak Mel Gibson dalam BraveHeart.
“Coba kalian pikir, kita sudah memelajari fonologi, teori apresiasi, esai, dan kritik sastra. Filsafat bahasa, morfologi, leksikografi, sintaksis, stilistika, semantik, psikolingustika, prosa, sosiolingusitika, psikologi-antropologi sastra, bahkan semiotik. Coba pikir sekali lagi, apa mereka yang termuat dan diposting karyanya mengerti semua tentang ilmu itu. Ha?”

Aku mencoba berargumen, “Tapi mungkin puisimu, cerpenmu, kolom-kolommu kurang komersil, Rit. Coba menulis lagi deh, siapa tahu dimuat.”
“Ini, ini. Betulkan. Hari minggu adalah hari surga bagi penulis. Karena sastra banyak muncul. Dan kau tahu, karya mereka absurd. Sulit dimengerti. Membolak-balikkan kata tanpa makna. Jelimet. Abstrak. Bukankah seni itu menyampaikan untuk tersampaikan? Apakah orang awam bisa memahaminya?” Parit kembali berorasi.
Menyesal aku dengan argumenku tadi. Kucoba lagi, barangkali Parit mau menerima masukanku. “Ya, itulah, Rit. Mungkin karyamu bagus. Hanya saja butuh momen yang pas. Pas Ramadan artikel islami. Hari Pahlawan tentang nasionalisme. Nah, giliran kita masuk ke zona itu, karya kita kalah dengan nama-nama yang sudah trending.”
“Oke, baiklah! Hari ini aku akan berhenti menulis puisi. Aku tidak sudi menulis opini atau kolom. Aku muak menulis cerpen. Aku putuskan untuk ….”
Belum selesai Parit dengan ucapannya, aku paranoid takut Parit akan berbuat apa-apa. Minum sampai mabuk. Pulang jalan kaki atau nekad bunuh diri. Segera aku berteriak, “Putuskan untuk apa, Rit? Pikir dulu baik-baik.”
“Sudah aku pikirkan baik-baik. Hari ini aku putuskan untuk berhenti menulis puisi, opini, tajuk, berita, cerpen. Aku putuskan untuk….” tak sabar kami mendengar lanjutannya.
“Aku putuskan untuk tidak menjadi penyair, kolumnis, ataupun cerpenis. Tapii…”
“Tapi…tapi apa, Rit?” aku mulai khawatir, jangan-jangan Gus Parit ingin jadi radikalis, lebih buruk lagi teroris, karena sudah terdoktrin, terkontaminasi dengan rasa ketidakpuasannya.
“Aku ingin jadi novelis!” seru Gus Parit dengan mantap.
Kami bengong. Masing-masing kembali ke kamar. Kami berjanji akan membalas Parit dengan mendiamkannya seminggu atas keputusan itu.
