Patung itu sudah menjadi pecahan kecil-kecil, runtukannya berceceran di atas lantai. Sesekali angin menyambar wajah sendu Anki, berbulan-bulan—bertahun-tahun ia membuat patung itu dengan peluh yang mengalir, kini hancur tak berbentuk. Kini hanya tinggal satu patung seukuran galon air mineral yang tengah memegang sebuah kapak di tangannya. Seolah ada seseorang yang memang sengaja ingin mengolok-ngolok Anki.
“Siapa yang tega melakukan semua ini padamu, Ki?” ucap salah satu santri yang turut menyaksikan kejadian malam itu.

“Jangan-jangan ada seseorang yang iri sama karyamu, Ki?” timpal yang lain.
“Aku jadi teringat sama kisah nabi Ibrahim yang pernah ustaz ceritakan minggu lalu.”
Anki hanya diam. Termenung. Tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan teman-temannya. Ia mendongak—menatap bulan yang senantiasa mengambang di antara awan. Ia sangat ingin mengetahui siapa yang melakukan semua itu. Namun, karena tenaganya sudah terkuras tak tersisa, ia tak sempat untuk memikirkan seseorang yang tengah tersenyum di balik penderitaannya itu.
“Siapa suruh membuat patung. Seperti penganut agama pagan saja,” ucap Faisal menyela keheningan.
Anki hanya melirik, seolah tak peduli sudah dengan apa yang akan terjadi padanya. Namun tidak untuk teman-temannya yang sedang berdiri di sana. Perhatian mereka tertuju pada Faisal. Sorot mata mereka serupa harimau yang menemukan mangsa yang sudah lama dicari. Terutama Malik. Teman dekat Anki yang satu ini terkenal dengan sifatnya yang temperamental.
“Bajingan kau, Faisal. Ini semua kelakuanmu, kan!” Malik mulai menuding dan menjahanamkannya.
“Wah parah”
“Gila…”
“Sadis.”
“Kejam..”
Faisal diam tak menjawab. Ia hanya menyunggingkan senyumnya dengan dingin, memancing amarah santri lain untuk memuncak. Malik pun geram tak tertahan. Amarah Malik yang sudah di ujung tanduk, dengan cepat ia lesatkan pukulannya tepat di wajah Faisal. Faisal mengusap pipi kirinya, dengan mata perlawanan ia hendak memukul balik. Namun, Ustaz lebih dulu menghalang mereka. Dengan bambu perkasanya ia memukul semua santri yang berkerumun di tengah malam itu.
