Pembacaan Kritis terhadap Hadis “Iftirāq al-Ummah”

serta:

كنتم خير أمة اخرجت للناس

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Artinya: “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.” (QS. Āli ‘Imrān: 110)

Jika hadis iftirāq dipahami bahwa mayoritas umat Islam berada dalam kesesatan dan hanya satu golongan yang selamat, maka secara tidak langsung hal itu dapat dipahami bertentangan dengan gambaran Al-Qur’an tentang umat Islam sebagai “umat terbaik” dan “umat pertengahan”. Bahkan jika dibandingkan secara matematis, umat Islam justru tampak lebih buruk daripada Yahudi dan Nasrani karena memiliki jumlah perpecahan yang lebih banyak.

Problem dengan Hadis-hadis Lain

Di samping itu, terdapat hadis-hadis lain yang menunjukkan keutamaan umat Islam dan dominasi mereka di surga. Nabi ﷺ bersabda:

“Penghuni surga terdiri dari seratus dua puluh barisan; delapan puluh barisan berasal dari umat ini dan empat puluh dari seluruh umat lainnya.”

Hadis ini menunjukkan bahwa umat Nabi Muhammad ﷺ merupakan mayoritas penghuni surga. Karena itu, jika hadis iftirāq dipahami bahwa seluruh golongan umat Islam masuk neraka kecuali satu kelompok kecil saja, maka muncul problem rekonsiliasi antara hadis tersebut dengan hadis-hadis tentang luasnya keselamatan umat Islam.

Berdasarkan hal ini, Syekh Jamal Faruq menawarkan pembacaan alternatif terhadap hadis iftirāq. Menurut beliau, yang dimaksud dengan “umat” dalam hadis tersebut bukanlah umat ijabah (umat Islam), melainkan umat dakwah, yaitu seluruh manusia yang menjadi objek dakwah Nabi Muhammad ﷺ, termasuk Yahudi, Nasrani, dan agama-agama lainnya. Dengan demikian, makna hadis menjadi lebih selaras dengan prinsip-prinsip Al-Qur’an dan hadis lain yang menegaskan keselamatan umat Islam secara umum.

Penafsiran ini juga dinilai lebih mampu menjaga persatuan umat. Sebab jika hadis tersebut dipahami sebagai legitimasi bahwa hanya satu kelompok Islam yang pasti selamat, maka setiap golongan akan mengklaim dirinya sebagai “firqah nājiyah” dan memandang kelompok lain sesat. Pada akhirnya, hadis yang semestinya menjadi peringatan moral justru berubah menjadi alat justifikasi sektarianisme.

Kritik Sanad Hadis Iftirāq

Selain problem penafsiran, hadis ini juga memiliki sejumlah catatan dalam kajian sanad. Hadis iftirāq tidak diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari maupun Imam Muslim dalam kitab Shahih mereka. Hal ini menunjukkan bahwa hadis tersebut tidak memenuhi standar paling ketat yang digunakan oleh kedua imam tersebut.

Tinggalkan Balasan