Keinginan saya menulis ini lagi-lagi dipicu oleh sebuah keheranan yang mengusik akal. Mengapa manusia, sejak zaman Yunani Kuno, masa kejayaan Islam, hingga era digital hari ini, selalu memiliki obsesi yang sama, yakni menyediakan sebuah buku khusus untuk mencatat kutipan, hikmah, dan potongan informasi yang mereka jumpai?
Akal saya menduga, ada sebuah kecemasan eksistensial yang universal di sana—kecemasan akan rapuhnya memori manusia. Di Barat, tradisi ini menemukan bentuknya dalam metode yang disebut commonplace book. Ia bukan tak hanya buku harian (diary) tempat kita menumpahkan curahan hati atau kejadian harian yang remeh. Bukan.

Commonplace book adalah sebuah “gudang memori” eksternal. Di sanalah para pemikir besar seperti Aristoteles, Marcus Aurelius, hingga tokoh modern seperti Bill Gates, mengumpulkan, menyortir, dan mendokumentasikan serpihan gagasan, anekdot, dan kutipan berharga untuk masa depan mereka.
Namun, keheranan saya berubah menjadi rasa takjub yang mendalam ketika menyadari bahwa jauh di belahan bumi yang lain, para ulama hadis kita telah merumuskan “aturan main” dari metode ini dengan sangat puitis dan rigid.
Dalam kitab Alfiyyah as-Suyuthi, tepatnya pada nazam nomor 589, tersimpan sebuah kaidah emas yang berbunyi:
“Idza katabta qammis… tsumma idza rawaitahu fafattis.” (Jika engkau menulis, kumpulkanlah apa saja… kemudian jika engkau hendak meriwayatkannya, maka periksalah dengan teliti).
Sungguh saya tertegun merenungkan sebaris bait ini. Di dalam tradisi intelektual Islam, aktivitas mencatat ternyata memiliki dua fase suci yang saling melengkapi.
Fase pertama adalah qammis—kumpulkan, raup, lahap dan catat apa saja yang melintas di hadapanmu tanpa perlu banyak menyortir terlebih dahulu. Ini adalah fase memperkaya isi dada dan lembaran kertas.
