Dunia hari ini sedang bergerak menuju Society 5.0, sebuah manifestasi peradaban baru yang berpusat pada manusia (human-centric) dengan berbasis teknologi (technology-based). Ini berbeda dengan Revolusi Industri 4.0 yang sangat bertumpu pada kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan big data.
Society 5.0 menuntut adanya harmonisasi yang seimbang antara kemajuan digital dan resolusi problem sosial ekonomi. Tantangan nyatanya bukan lagi sekadar mencetak manusia yang cakap teknologi, melainkan bagaimana membentuk generasi yang memiliki kedalaman nilai humanisme serta spiritualitas yang kokoh agar tidak dikendalikan oleh arus disrupsi digital.

Namun, idealisme tersebut membentur tembok realitas yang problematis di dalam rahim pendidikan Islam, yaitu masih kuatnya cengkeraman dikotomi keilmuan. Lembaga pendidikan Islam sering kali terjebak dalam pembatasan rigid yang memisahkan secara diametral antara “ilmu agama” (al-ulūm al-dīniyyah) yang dianggap sakral, dan “ilmu umum” (al-ulūm al-kauniyyah) yang dinilai sekuler.
Implikasi dari dualisme epistemologis ini melahirkan dua kutub ekstrem yang sama-sama rapuh: lulusan yang kaya spiritualitas tetapi gagap teknologi, atau para teknokrat yang mahir digital namun mengalami kekosongan eksistensial.
Guna meruntuhkan tembok dikotomi tersebut, rekonstruksi teologis yang progresif mutlak diperlukan. Dalam konteks ini, gagasan Teologi Iman dan Modernitas yang ditawarkan oleh Nurcholish Madjid (Cak Nur) menemukan relevansi tertingginya.
Iman Penggerak Nalar
Dalam membedah struktur teologis Islam, Cak Nur meredefinisi makna iman dari sekadar dogma pasif dan taklid buta menjadi sebuah kesadaran normatif yang bersifat emansipatoris bagi akal manusia. Iman yang sejati tidak pernah memasung nalar, melainkan bertindak sebagai pembebas kesadaran manusia dari belenggu pengkultusan makhluk maupun mitos-mitos duniawi. Ketika seorang muslim menginternalisasi nilai tauhid, ia secara epistemologis dibebaskan untuk berpikir secara objektif, kritis, dan rasional tanpa bayang-bayang ketakutan teologis.
Dalam bukunya Islam, Doktrin, dan Peradaban, disebutkan bahwa seseorang disebut menuhankan dirinya jika ia memutlakkan diri dan pandangan atau pikirannya sendiri. Sikap eksklusif seperti ini membuat seseorang mudah menutup diri, fanatik, dan antipati terhadap hal-hal baru yang datang dari luar.
