Pendidikan Islam Menuju Society 5.0 ala Cak Nur

Dunia hari ini sedang bergerak menuju Society 5.0, sebuah manifestasi peradaban baru yang berpusat pada manusia (human-centric) dengan berbasis teknologi (technology-based). Ini berbeda dengan Revolusi Industri 4.0 yang sangat bertumpu pada kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan big data.

Society 5.0 menuntut adanya harmonisasi yang seimbang antara kemajuan digital dan resolusi problem sosial ekonomi. Tantangan nyatanya bukan lagi sekadar mencetak manusia yang cakap teknologi, melainkan bagaimana membentuk generasi yang memiliki kedalaman nilai humanisme serta spiritualitas yang kokoh agar tidak dikendalikan oleh arus disrupsi digital.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Namun, idealisme tersebut membentur tembok realitas yang problematis di dalam rahim pendidikan Islam, yaitu masih kuatnya cengkeraman dikotomi keilmuan. Lembaga pendidikan Islam sering kali terjebak dalam pembatasan rigid yang memisahkan secara diametral antara “ilmu agama” (al-ulūm al-dīniyyah) yang dianggap sakral, dan “ilmu umum” (al-ulūm al-kauniyyah) yang dinilai sekuler.

Implikasi dari dualisme epistemologis ini melahirkan dua kutub ekstrem yang sama-sama rapuh: lulusan yang kaya spiritualitas tetapi gagap teknologi, atau para teknokrat yang mahir digital namun mengalami kekosongan eksistensial.

Guna meruntuhkan tembok dikotomi tersebut, rekonstruksi teologis yang progresif mutlak diperlukan. Dalam konteks ini, gagasan Teologi Iman dan Modernitas yang ditawarkan oleh Nurcholish Madjid (Cak Nur) menemukan relevansi tertingginya.

Iman Penggerak Nalar

Tinggalkan Balasan