Setelah terdiam untuk beberapa saat—bingung harus menanggapi apa—orang itu berkata, “Jujur, saya heran pada sampean, karena seingat saya di pekarangan ini belum ada pohon pisang berbuah se-rendel sampean. Sebetulnya apa yang menjadikan sampean berbuat demikian?”
Pohon pisang itu menjawab dengan menceritakan bahwa semua ini bermula pada suatu sore menjelang senja. Seseorang tampak mengontel sepeda di jalan depan pekarangan itu, mendekat ke arahnya sembari terus-menerus memandangi jantung—bunga pisang—yang sedang ia rekahkan dengan pandangan penuh kekaguman.

Dipandangi seperti itu, ia sendiri merasa heran: apakah orang itu baru sekali ini mendapati pohon pisang bakal berbuah, ia tidak tahu. Kemudian, ia bertambah heran, saat jarak kian dekat, sembari tetap memandanginya, sekonyong-konyong orang itu berkata dengan nada riang, “Alhamdulillah!”
Beberapa hari kemudian, orang itu tampak lagi di jalan itu, dan memamerkan gelegat yang sama seperti kemarin. Maka, begitu ia selesai mengucap alhamdulillah, buru-buru si pohon pisang menghentikannya. Setelah orang itu berhenti, si pohon pisang meminta penjelasan kenapa ia melakukan hal itu.
Setelah tersenyum, orang itu menjawab dengan menyatakan bahwa saat ia melihat jantung pisangnya yang tengah merekah, sekonyong-konyong ia teringat Gusti Allah Ta’ala, Pencipta jagad raya dan segala isinya.
