Pengakuan Sebatang Pohon Pisang

Tidak sepenuhnya memahami jawaban tersebut, si pohon pisang meminta penjelasan lebih lanjut.

“Sampean,” kata orang itu, “dan segenap pepohonan, saya dan segenap manusia serta semua makhluk di alam semesta adalah ciptaan Gusti Allah Ta’ala. Adanya alam semesta berikut seluruh isinya membuktikan adanya Sang Pencipta. Tidak mungkin alam semesta ada dengan sendirinya. Kita adalah tanda, tanda yang menandakan keberadaan Sang Pencipta. Saat saya melihat sampean, saya melihat suatu tanda yang mengingatkan saya kepada Dia Sang Pencipta; maka seketika itu juga saya memuji Gusti Allah Ta’ala, hanyut dalam kekaguman kepada-Nya—yang menciptakan sampean berikut potensi yang ada pada sampean hingga tumbuh dan berbuah…”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kemudian, setelah pohon pisang itu menyadari dirinya adalah makhluk ciptaan, suatu tanda, yang menandakan keberadaan Sang Pencipta, ia bertekad menjadi tanda yang baik—dalam arti menarik perhatian bagi siapa yang melihatnya; karena ia hanyalah sebatang pohon pisang, yang hanya bisa tumbuh dan menghasilkan buah pisang, maka ia bertekad menjadikan buahnya sebaik mungkin agar diperhatikan, dan semoga keberadaannya mengingatkan para pelihatnya kepada Gusti Allah Ta’ala yang menciptakannya.

Demikianlah si pohon pisang mengakhiri jawabannya yang menjadikan orang itu tercengang dalam tempo cukup lama. Selain tidak pernah menyangka bahwa sebatang pohon pisang bakal berpikir dan bertekad sejauh itu, sebagai manusia ia merasa malu: selama ini ia hanya memikirkan buah yang dihasilkan oleh pohon-pohon pisang yang tumbuh di pekarangan depan rumahnya itu sekadar sebagai keuntungan baginya belaka. Jarang sekali atau malah tidak pernah sama sekali ia berpikir bahwa mereka pun merupakan suatu tanda yang dapat mengingatkanya kepada Sang Pencipta.

Namun kemudian ia menginsyafi kelakuannya, dan bertekad merawat mereka hingga mudah-mudahan menghasilkan buah-buah pisang terbaik yang bakal menyita perhatian orang-orang yang lewat di jalan depan rumahnya itu; mengingatkan mereka kepada Penciptanya—Gusti Allah Ta’ala.

Tinggalkan Balasan