Pengujung Ramadan

Dulu. Dulu sekali. Orang-orang yang mengaku kerabat bermartabat itu berkunjung ke gubuk kami berbondong-bondong untuk mendapat belas kasih kami. Ah, itu dulu. Dulu sekali. Waktu gubuk kami masih berlantai marmer dan beratap emas. Ah, itu dulu. Dulu sekali. Bahkan kenangan itu sudah hampir terhapus dari memori usangku. Itu dulu sekali sebelum takdir ini menghampiri kami. Sebelum kursi ini menjadi reot. Sebelum lantai kami menjadi penuh debu. Sebelum atap kami roboh oleh kesengsaraan.

Kami masih di samping kursi reot kami. Tertatih membaca takbir. Air mata kami menetes. Nelangsa menerjang. Mengiris-iris hampir membunuh. Dia lupa bagaimana rasanya dipanggil “Tante”. Dia lupa rasanya dipanggil “Mbakyu”. Dia lupa rasanya dipanggil “Adik”. Apalagi aku. Aku bahkan tak mengenal satu per satu wajah kerabatku. Kami ini bukan siapa-siapa dalam jajaran kerabat yang katanya bermartabat. Kami ini seperti benalu, mungkin mereka pikir begitu. Lagi nelangsa menyayat kami.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tinggalkan Balasan