Kami saling pandang. Matanya sembab. Dia memelukku, berusaha menguatkan, meski aku tahu, sakitnya pasti lebih bertubi-tubi dalam dibanding aku.
Kami tidak butuh baju baru, kami tidak butuh bingkisan hari raya, kami tidak butuh salam tempel. Hati kami tersayat, namun kami yakini “kemenangan” tak selalu berarti pesta pora.

