Menurutnya, selamanya penulis itu adalah pemberontak. Atau penggelisah dan pemrotes terhadap kemapanan. Para penulis, dan karya-karya mereka, selalu berangkat dari tidak memadainya hidup yang dibayangkan karena direnggut kemapanan (establishment). Mereka selalu mempersoalkan kemapanan. Akhirnya mereka memilih menulis sebagai cara hidup, dan kemudian hidup dalam ketakmapanan. Kredonya adalah: boleh mencari uang untuk hidup dan menulis, tapi tak boleh menulis untuk hidup dan uang.
Begitulah para penulis sejati yang digambarkan Mario Vargas Llosa. Dalam bahasa sastrawan Putu Wijaya, menulis itu dharma, laku pengabdian hidup.

Itulah kenapa, penulis selalu menjadi kelompok minoritas. Hanya sebagian kecil orang yang mampu bersetia dan bertahan sebagai penulis. Kalau tak percaya, cobalah periksa lingkungan di mana Anda, sebagai penulis, tinggal. Hampir bisa dipastikan yang menjadi penulis cuma Anda.
Hal tersebut bukan karena di situ Anda menjadi orang yang paling cerdas atau paling baik. Lebih didorong karena di situ Anda menjadi orang yang paling gelisah, yang paling rewel terhadap hal Ikhwal, yang paling getol mempersoalkan kemapanan, dan hal-hal serupa yang mendorong Anda untuk menulis. Dan jangan berharap ada tetangga yang akan meniru-niru menjadi penulis, seperti tetangga yang ikut-ikutan buka warung kelontong.
Di lingkungan pesantren pun demikian. Dari ribuan santri di satu pondok pesantren, jika ada, mungkin hanya segelintir yang tekun menulis. Karena apa? Karena passion. Karena panggilan. Panggilan yang datang dari apa yang digambarkan Mario Vargas Llosa tersebut.
Jadi, ketika jejaring duniasantri menginisiasi gerakan santri menulis, baik melalui workshop-workshop penulisan maupun situs web duniasantri.co, tak terlalu berharap akan datang berduyun-duyun santri menjadi penulis. Sebab, yang akan istikamah menjadi penulis tetap sekelompok kecil santri, kelompok minoritas, tapi terus kreatif dalam menulis. Mereka biasa disebut creative minority atau minoritas kreatif. Memang jumlahnya sedikit, tapi karya-karya tulis mereka akan dibaca banyak orang, gagasan-gagasan kreatif mereka akan “mengganggu” pikiran banyak orang. Yang minoritas akan mewarnai yang mayoritas.
