Tiga hari sudah berlalu sejak malam jahanam itu. Malam ketika Naya kehilangan adik perempuan satu-satunya, Yara. Selama tiga hari, Naya mengurung diri. Berkali-kali ia berniat untuk bunuh diri saja, tetapi bayangan Yara mengganggunya. Yara pasti tidak menginginkannya secepat itu menyusul ke alam baka.
Untuk pertama kalinya sejak malam itu, Naya membuka gorden kamarnya. Sinar matahari pagi membuatnya memicingkan matanya yang selama ini terbiasa dengan kegelapan. Untuk pertama kalinya, Naya menggerakkan badannya untuk membersihkan kamarnya yang berantakan. Penuh sampah cup mi instan dan cangkir kopi yang berjamur.

Ia meraih gawainya. Menekan tombol power dan bunyi “ting” notifikasi menyapanya tanpa henti. Ratusan pesan dan panggilan tak terjawab. Ia membuka grup keluarga. Ada banyak pesan yang ditujukan untuknya. Dari mama, papa, dan saudara-saudara yang lain. Semuanya bernada sama: ini bukan kesalahanmu, kematian Yara adalah takdir belaka, tolong buka pintunya, mama kirim makanan, jangan berbuat bodoh Nay, dll, dll.
Naya tidak membalas satu pun pesan-pesan itu. Ia sudah mau menutup aplikasi pesan itu ketika menemukan satu kiriman video yang menyita perhaitannya. Naya tahu video apa itu dari thumbnail. Naya merasa tangannya gemetar, tapi toh ia putar juga video itu.
