Perampok yang Menggali Liang Kuburnya Sendiri

Ratmi resmi ia nikahi dua belas tahun silam saat musim panen ketela membuat kedua orangtua mereka sepakat mengadakan selamatan. Masa pengantin baru yang ia tahu hanyalah Ratmi yang berhati melati dengan segala kelembuatn dan kesucian dalam diam putih yang asri dan wangi. Setelah tiga bulan berlalu, barulah Ratmi pelan-pelan menunjukkan sikap yang berbeda, yang tidak bisa puas dengan sandang, pangan, dan papan seadanya. Ia ingin lebih dari itu, ingin lebih dari yang dimiliki tetangganya, sehingga tak segan menyuruh suaminya, si lelaki itu untuk berkerja dengan giat siang dan malam.

Lelaki itu pun menuruti kemauan Ratmi. Bekerja siang malam. Mencurahkan tenaga dan pikiran. Jarang tidur dan jarang makan, yang penting mendapat uang yang banyak. Bahkan ia tak peduli tubuhnya kian hari kian kurus menampakkan belukar tulang. Wajahnya hanya tampak cekungan mata dan tonjolan gigi dalam balutan kulit kering. Sementara uang yang ia dapat tetap tak dianggap cukup oleh Ratmi. Lelaki itu selalu mendapat omelan panjang lebar bahkan ancaman yang membuatnya bergidik. Yang bisa ia lakukan saat itu hanya menunduk diam sembari mencari cara cepat untuk menghasilkan uang yang banyak tanpa harus lelah berusaha.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Lelaki itu akhirnya memberanikan diri bergabung dengan Martono—salah seorang ketua geng rampok—meski saat itu tubuhnya tak layak untuk jadi seorang perampok karena ringkih, kering dan batuk-batuk. Cara yang ia lakukan agar bisa meyakinkan Murtono, untuk pertama kali, ia langsung merampok keluarga saudagar yang sedang berlibur sekaligus nekat membunuh seorang Satpam yang berusaha mengejarnya.

Lelaki itu menyerahkan sepertiga hasil rampokannya kepada Martono. Pujian pun ia dengar dari bibir hitam Martono yang sambil lalu menyimpul senyum. Ia sangat bahagia mendengar pujian itu bagai anak TK yang dinobatkan jadi bintang kelas di hadapan ratusan wali murid. Sekitar 20 menit sebelum ia beranjak dari rumah Martono, dengan tangan menyentuh pundak, dan wajah lurus membingkai tatap mantap, Martono memberi konsep-konsep sekaligus trik merampok yang bagus di era milenial. Lelaki itu menyimak dan kadang mengangguk, sesekali menghela napas, dan telapak tangannya yang sedari tadi terbenam di saku celananya masih meraba sejumlah uang dan perhiasan.

“Bagus! Kau perampok yang ulung. Merampok tanpa membuat suasana gaduh, membunuh tanpa sepercik darah. Hari-hari yang harus dijalani perampok setelah masa perampokan adalah tutup mata dan telinga pada berita gaduh di media dan menjalani hari-hari seolah tak ada apa-apa dengan tetap memastika diri aman dari kejaran aparat,” Martono menepuk pundak lelaki itu dua kali sambil tersenyum.

“Jangan khawatir, apalagi takut. Perampok memang harus berusaha mengubah keadaan, jika genting sekalipun anggaplah sebuah perayaan cinta,” suara Martono tegas tanpa senyum, menyiratkan sebuah keseriuasan. Ia kembali mengangguk, tapi kala itu adalah anggukan spekulatif seperti pemain sepak bola menendang bola dari tengah lapangan ke arah gawang saat waktu tinggal sedetik.

Di tengah perjalanan pulang, kakinya bagai melangkah di dunia entah yang dipenui hujan jarum dalam liputan gelap dan cekam. Harta senilai ratusan juta rupiah yang ia bawa masih jauh lebih berat pikirannya sendiri tentang kekhawatiran dan rasa takut. Ia mulai sadar bahwa tak ada pekerjaan gampang di dunia.

Setiba di rumahnya, lelaki itu langsung menyerahkan hasil rampokan kepada istrinya dengan gerak yang seolah sengaja ditabur, membuat uang dan perhiasan itu bertebaran. Ratmi berteriak bahagia, tertawa sambil melompat-lompat. Ia hanya menatapnya dengan kedua mata yang dirajam bimbang antara hendak bahagia atau gelisah.

“Dari mana semua ini Mas Kunto dapat?”

Ia tak langsung menjawab. Menarik napas panjang. Lalu membalikkan tubuhnya ke arah jendela. Menatap lebat daun lenkeng yang menyampiri jendela.

Tinggalkan Balasan