Hal lain yang ia lakukan untuk meyakinkan jalan pertobatannya itu adalah menggali lubang kubur di dalam kamar pribadinya sebagai persiapan bagi jalan akhir hayatnya sekaligus alat kendali untuk dirinya agar tidak melakukan hal keji lagi. Di dekat liang kubur itu, ia kerap meratapi masa kelamnya seraya menitikkan air mata, menyaruk hikmah dari lubang yang menganga sebagai jalan pasti yang akan dilalui setiap manusia. Tapi hanya beberapa minggu saja ia menghayati pelajaran filosofis dari lubang itu, hari setelah itu, ia tak menyangka polisi masih bisa datang ke tempat itu dan memindahkannya ke penjara. Di penjara, ia selalu merindukan lubang kubur buatannya sendiri itu.
